Biduran Tak Kunjung Hilang? Kenali Urtikaria Kronik dan Cara Mengatasinya

You are currently viewing Biduran Tak Kunjung Hilang? Kenali Urtikaria Kronik dan Cara Mengatasinya

Urtikaria kronik, yang sering dikenal masyarakat sebagai biduran menahun, adalah kondisi kulit berupa bentol kemerahan yang gatal dan muncul berulang selama lebih dari enam minggu. Berbeda dengan biduran akut yang biasanya hilang dalam hitungan hari, urtikaria kronik dapat berlangsung berbulan-bulan hingga bertahun-tahun sehingga sering kali menimbulkan dampak besar terhadap kualitas hidup penderitanya, terutama karena rasa gatal yang mengganggu tidur dan aktivitas sehari-hari (1).

Dari sudut pandang alergi dan imunologi, urtikaria kronik berkaitan erat dengan aktivasi sel mast di kulit. Sel mast merupakan sel imun yang berperan penting dalam reaksi alergi. Ketika sel ini teraktivasi, ia akan melepaskan berbagai mediator kimia seperti histamin. Histamin inilah yang menyebabkan pelebaran pembuluh darah, kebocoran cairan ke jaringan sekitar, dan rangsangan saraf yang menimbulkan bentol serta rasa gatal. Menariknya, pada sebagian besar kasus urtikaria kronik, aktivasi sel mast ini tidak dipicu oleh alergen klasik seperti makanan atau debu, melainkan oleh mekanisme imun yang lebih kompleks, termasuk proses autoimun (1,2).

Berdasarkan penyebabnya, urtikaria kronik dibagi menjadi dua kelompok besar. Pertama adalah urtikaria kronik spontan, yaitu kondisi ketika bentol muncul tanpa pencetus yang jelas. Inilah tipe yang paling sering ditemukan. Kedua adalah urtikaria kronik terinduksi, di mana gejala muncul akibat rangsangan tertentu seperti tekanan pada kulit, udara dingin, panas, getaran, atau olahraga. Pada sebagian pasien, pemeriksaan menunjukkan adanya autoantibodi yang “salah sasaran” dan justru mengaktifkan sel mast, sehingga urtikaria kronik sering dikaitkan dengan penyakit autoimun seperti gangguan tiroid (2,3).

Faktor risiko terjadinya urtikaria kronik meliputi usia dewasa, jenis kelamin perempuan, riwayat alergi atau penyakit autoimun, serta penggunaan obat tertentu seperti obat anti-nyeri golongan NSAID. Stres emosional juga diketahui dapat memperberat gejala, meskipun bukan penyebab utama. Hal ini menjelaskan mengapa pada beberapa orang, biduran terasa lebih sering kambuh saat kelelahan atau tekanan psikologis meningkat (1,3).

Gejala utama urtikaria kronik adalah bentol kemerahan atau pucat yang terasa sangat gatal dan dapat muncul di bagian tubuh mana pun. Bentol biasanya hilang dalam waktu kurang dari 24 jam, tetapi dapat muncul kembali di lokasi lain. Pada sebagian pasien, kondisi ini disertai angioedema, yaitu pembengkakan di lapisan kulit yang lebih dalam, sering mengenai kelopak mata, bibir, atau tangan. Walau tampak mengkhawatirkan, urtikaria kronik jarang bersifat mengancam nyawa (1).

Diagnosis urtikaria kronik umumnya ditegakkan berdasarkan wawancara medis dan pemeriksaan fisik. Dokter akan menilai lamanya keluhan, pola munculnya bentol, serta kemungkinan pencetus. Pemeriksaan laboratorium tidak selalu diperlukan, kecuali bila dicurigai adanya penyakit penyerta seperti infeksi, alergi, atau gangguan autoimun. Hal ini penting dipahami karena tidak semua kasus biduran menahun membutuhkan pemeriksaan darah yang kompleks (3,4).

Penatalaksanaan urtikaria kronik bertujuan untuk mengontrol gejala dan meningkatkan kualitas hidup. Obat utama yang digunakan adalah antihistamin generasi kedua yang relatif aman dan tidak menyebabkan kantuk. Bila keluhan belum terkontrol, dosis dapat ditingkatkan sesuai anjuran dokter. Pada kasus yang berat dan sulit diobati, terapi biologis seperti omalizumab dapat dipertimbangkan karena bekerja langsung pada jalur imun yang terlibat dalam pelepasan histamin (1,2). Alternatif jika gejala tidak membaik setelah omalizumab adalah siklosporin. Selain obat, pasien juga dianjurkan mengenali dan menghindari pencetus bila ada, serta menjaga pola tidur dan manajemen stress (3).

Urtikaria kronik bukan penyakit menular dan bukan pula tanda alergi berat yang berbahaya. Sebagian besar pasien akan mengalami perbaikan atau bahkan remisi dalam beberapa tahun. Dengan edukasi yang baik dan pengobatan yang tepat, penderita urtikaria kronik tetap dapat menjalani hidup aktif dan produktif tanpa harus terus-menerus terganggu oleh rasa gatal (1,4).

Penulis:

Referensi:

  1. Zuberbier T, Abdul Latiff AH, Abuzakouk M, et al. The international EAACI/GA²LEN/EuroGuiDerm/APAAACI guideline for the definition, classification, diagnosis, and management of urticaria. Allergy. 2022;77(3):734–766. doi:10.1111/all.15090.
  2. Kolkhir P, Church MK, Weller K, Metz M, Schmetzer O, Maurer M. Autoimmune chronic spontaneous urticaria: What we know and what we do not know. J Allergy Clin Immunol. 2017;139(6):1772–1781.e1. doi:10.1016/j.jaci.2016.08.050.
  3. Sánchez-Borges M, Ansotegui IJ, Baiardini I, et al. The challenges of chronic urticaria: epidemiology, immunopathogenesis, comorbidities, quality of life, and management. World Allergy Organ J. 2021;14(6):100533. doi:10.1016/j.waojou.2021.100533
  4. Kaplan A, Lebwohl M, Giménez-Arnau AM, Hide M, Armstrong AW, Maurer M. Chronic spontaneous urticaria: Focus on pathophysiology to unlock treatment advances. Allergy. 2023;78(2):389-401. doi:10.1111/all.15603