Skleroderma: Kelainan Kulit akibat Proses Autoimun

You are currently viewing Skleroderma: Kelainan Kulit akibat Proses Autoimun

Pernah mendengar tentang penyakit yang membuat kulit terasa kencang, kaku, seperti kulit yang ditarik terlalu erat? Hal itu merupakan gambaran sederhana dari gejala skleroderma, sebuah penyakit autoimun langka yang setiap tanggal 29 Juni diperingati dunia sebagai World Systemic Sclerosis (Scleroderma) Day. Meski namanya belum familiar bagi banyak orang, dampaknya terhadap kualitas hidup penyandangnya tidak bisa diremehkan.

Scleroderma, secara harfiah berasal dari bahasa Yunani sclero (keras) dan derma (kulit), adalah istilah yang digunakan untuk menggambarkan kelompok penyakit jaringan ikat yang ditandai oleh fibrosis kulit progresif akibat penebalan dan pengerasan kulit. Secara klasifikasi, scleroderma dibagi menjadi dua kategori besar: scleroderma terlokalisasi dan sklerosis sistemik (systemic sclerosis/SSc) yang dapat diklasifikasikan lebih lanjut menjadi sklerosis sistemik terbatas (dahulu disebut sindrom CREST, ditandai dengan kalsinosis, fenomena Raynaud, dismotilitas esofagus, sklerodaktili, dan telangiektasia) atau sklerosis sistemik difus, berdasarkan kriteria klinis dan serologis.1-2

Secara gambaran histopatologis, scleroderma terlokalisasi terutama mengenai kulit dan jaringan subkutan, menyebabkan area kulit yang menebal yang pada pemeriksaan biopsi menunjukkan fibrosis dermal yang menyerupai perubahan histopatologis pada kulit yang menebal pada sklerosis sistemik. Perbedaan utamanya, scleroderma terlokalisasi tidak dikaitkan dengan gejala sistem organ lain, seperti fenomena Raynaud, kejadian iskemia jari, atau keterlibatan organ dalam. Sementara itu, sklerosis sistemik justru ditandai oleh keterlibatan multiorgan yang luas. Pada tingkat molekuler, sklerosis sistemik (scleroderma) adalah penyakit fibrosis kronis yang dipicu oleh proses autoimun, yang memengaruhi kulit dan banyak organ lain, dengan patofisiologi kompleks yang melibatkan kerusakan endotel dini, infiltrat inflamasi, dan reaksi fibrotik yang dihasilkan.2-3

Hingga kini, penyebab pasti skleroderma belum diketahui secara lengkap. Terdapat bukti bahwa faktor genetik dan lingkungan turut berperan dalam patogenesis scleroderma. Interaksi faktor-faktor ini mengaktivasi sistem imun, menyebabkan kerusakan pembuluh darah dan jejas jaringan yang berujung pada pembentukan jaringan parut dan akumulasi kolagen berlebih. Beberapa pajanan dari lingkungan pekerjaan telah diidentifikasi sebagai faktor risiko. Silika dan beberapa pelarut organik diketahui sebagai faktor risiko terjadinya sklerosis sistemik. Hal ini dapat ditemukan pada populasi pekerja tambang, konstruksi, atau industri yang terpapar debu silika dan bahan kimia pelarut dalam jangka panjang. Selain faktor lingkungan, faktor genetik memainkan peran dalam perkembangan penyakit. Berdasarkan tiga kohort di Amerika Serikat, prevalensi penyakit ini 13 kali lebih tinggi pada pasien skleroderma dengan riwayat skleroderma pada kerabat tingkat pertama dibandingkan populasi umum.2-3 

Sebagaimana pada banyak penyakit autoimun lain, perempuan memiliki risiko lebih tinggi dibandingkan laki-laki dengan rasio 4,6:1. Sklerosis sistemik dapat terjadi pada usia berapa pun, namun jarang pada anak-anak dan lanjut usia—penyakit ini paling prevalen pada individu usia 30-50 tahun. Sementara itu, skleroderma terlokalisasi memengaruhi terutama perempuan dengan insidensi 3 kasus per 100.000 individu per tahun, dan bentuk morphea/plak lebih prevalen pada dewasa sedangkan skleroderma linear lebih sering mengenai anak-anak.2-3 

Mekanisme penyakit skleroderma melibatkan interaksi kompleks dari proses kelainan vaskular, fibrosis berlebih, dan fenomena autoimun. Berdasarkan predisposisi genetik, ketidakseimbangan sistem imun adaptif dan innate menyebabkan pelepasan berbagai sitokin, kemokin, serta autoantibodi, yang menginduksi aktivasi fibroblas dengan pembentukan myofibroblas dan deposisi jaringan ikat yang kaku dan rigid.  Interaksi abnormal antara sel endotel, fibroblas, dan limfosit (B dan T) menyebabkan keterlibatan vaskular mikrosirkulasi. Sel endotel memproduksi endotelin 1 dalam jumlah besar, menyebabkan vasokonstriksi dan aktivasi fibroblas. Proses ini diperparah oleh stres oksidatif lokal: fibroblas dan sel endotel yang teraktivasi memproduksi reactive oxygen species yang mempercepat remodeling vaskular, yang berujung pada obliterasi pembuluh darah kecil. Konsekuensi klinisnya dapat diamati langsung secara non-invasif: pada lebih dari 95% pasien SSc, kapilaroskopi lipatan kuku menunjukkan anomali vaskular seperti disorganisasi struktur, perdarahan, kehilangan kapiler, angiogenesis, dan area avaskular.1-2 

Kerusakan vaskular kronis dan inflamasi yang menyertainya mendorong diferensiasi fibroblas menjadi fenotipe yang sangat profibrotik. Fibroblas yang teraktivasi mudah berdiferensiasi menjadi myofibroblas, yang memiliki kemampuan sintesis kolagen yang meningkat. Inilah yang secara langsung menjelaskan manifestasi klinis utama penyakit, penebalan dan pengerasan kulit serta jaringan ikat organ dalam, karena deposisi kolagen berlebih yang progresif dan sulit diregresi.1-2

Keterlibatan kulit pada skleroderma bersifat khas dan progresif. Lesi kulit bersifat bilateral dan simetris, dengan onset pada area distal, melibatkan jari tangan dan kadang jari kaki. Secara klinis dibedakan dua bentuk: difus, ketika sklerosis kutan meluas di atas siku dan lutut, mewakili 30-40% dari seluruh pasien; dan terbatas, ketika keterlibatan kutan terbatas pada jari, tangan, lengan bawah, dan wajah. Perubahan tekstur kulit cukup khas: kulit jari menjadi kering, tebal, dan kasar saat disentuh (sklerodaktili), dan membuat sulit mengepalkan tangan. Pada wajah, wajah menjadi tidak ekspresif, dengan kulit serupa lilin di mana lipatan kulit menghilang. Hidung dan bibir menipis, dan keterbatasan membuka mulut dapat mengganggu konsumsi makanan padat serta perawatan gigi.3-4

Sementara itu, sklerosis sistemik dapat melibatkan berbagai sistem organ, mulai dari sistem vaskular jari, paru, ginjal, dan jantung. Pada jari, terdapat fenomena Raynaud yang merupakan fenomena jari mengalami pucat dengan kesemutan terbatas pada beberapa jari, berwarna biru dengan rasa baal, hingga kemerahan yang disertai nyeri. Pada sistem paru, keterlibatan paru meliputi penyakit paru interstisial (interstitial lung disease) dan hipertensi arteri pulmonal (pulmonary artery hypertension). Kedua komplikasi ini merupakan penyebab utama kematian selama SSc. Pada sistem gastrointestinal, penyakit refluks gastroesofageal (GERD) terjadi pada 75-90% pasien. Gangguan motilitas juga dapat memengaruhi lambung dan usus halus, menyebabkan bacterial overgrowth, dengan defisiensi nutrisi (folat dan vitamin B12), malabsorpsi, dan pseudo-obstruksi.3-4

Komplikasi scleroderma pada dasarnya merupakan kelanjutan langsung dari keterlibatan organ. Pada sistem kulit dan muskuloskeletal, pengerasan kulit dan keterlibatan muskuloskeletal pada sklerosis sistemik dapat menyebabkan disabilitas fungsional, terutama pada tangan. Keterbatasan dalam membuka mulut juga dapat mengganggu asupan makanan dan perawatan gigi. Komplikasi vaskular jari dapat berujung pada kondisi yang mengancam jaringan: ulserasi digital berulang berisiko berkembang menjadi iskemia berat hingga gangren distal yang pada kasus ekstrem memerlukan amputasi. Pada sistem ginjal, krisis renal scleroderma tetap menjadi komplikasi yang paling mengancam karena onsetnya yang akut dan progresif cepat. Pada localized scleroderma, perjalanan komplikasinya berbeda dan umumnya lebih ringan. Scleroderma linear pada ekstremitas dapat menyebabkan disabilitas fungsional, terutama jika penyakit memengaruhi tulang di bawahnya. Scleroderma linear “en coup de sabre” dapat menimbulkan masalah estetik dan/atau fungsional, mengingat lokasinya yang khas di wajah dan kulit kepala.3-4

Hingga saat ini belum ada terapi yang dapat menyembuhkan scleroderma secara menyeluruh. Pengobatan yang tersedia bertujuan untuk meredakan gejala dan memperlambat perkembangan penyakit, bukan menghilangkannya. Pendekatan terapinya disesuaikan dengan gejala yang dialami masing-masing pasien serta organ apa saja yang terlibat. Untuk fenomena Raynaud, obat penghambat kanal kalsium biasanya menjadi pilihan utama, ditambah dengan langkah pencegahan seperti menghindari suhu dingin dan berhenti merokok. Gangguan asam lambung ditangani dengan obat penghambat pompa proton, sementara krisis renal skleroderma membutuhkan obat golongan ACE inhibitor yang telah terbukti mengubah prognosis komplikasi ini secara signifikan.1-2

Karena penyakit ini dapat memengaruhi banyak sistem organ sekaligus, penanganannya idealnya melibatkan tim multidisiplin yang terdiri dari dokter spesialis kulit, penyakit dalam, reumatologi, kardiologi, paru, gastroenterologi, hingga nefrologi. Terapi fisik juga sering diperlukan untuk mencegah keterbatasan gerak permanen akibat kekakuan kulit dan sendi.1-2

Kesimpulan

Scleroderma merupakan penyakit jaringan ikat akibat autoimun yang kompleks, dengan spektrum keparahan yang sangat luas, mulai dari bentuk terlokalisasi yang relatif ringan dan terbatas pada kulit, hingga sklerosis sistemik yang dapat melibatkan hampir seluruh organ vital. Peningkatan kesadaran masyarakat tentang scleroderma, sebagaimana yang diperingati setiap 29 Juni melalui World Systemic Sclerosis (Scleroderma) Day, menjadi langkah penting untuk mendorong pengenalan gejala lebih awal dan rujukan yang lebih cepat ke layanan kesehatan mengingat rentang waktu diagnosis yang seringkali tertunda pada penyakit autoimun langka seperti ini.1-4

Penulis

Referensi

  1. Odonwodo A, Badri T, Hariz A. Scleroderma (Archived) [Updated 2023 Jul 31]. In: StatPearls [Internet]. Treasure Island (FL): StatPearls Publishing; 2026 Jan-. Available from: https://www.ncbi.nlm.nih.gov/books/NBK537335/
  2. Distler O, Assassi S, Cottin V, Cutolo M, Danoff SK, Denton CP, et al. Pathophysiology of systemic sclerosis (scleroderma). J Intern Med. 2024. Available from: https://pmc.ncbi.nlm.nih.gov/articles/PMC11896191/
  3. Adigun R, Goyal A, Hariz A. Systemic Sclerosis (Scleroderma). In: StatPearls [Internet]. Treasure Island (FL): StatPearls Publishing; 2026 Jan-. Available from: https://www.ncbi.nlm.nih.gov/books/NBK430875/
  4. Dumoitier N, Lofek S, Mouthon L. Pathophysiology of systemic sclerosis: state of the art in 2014. Presse Med. 2014 Oct;43(10 Pt 2):e267-78. PubMed PMID: 25179277.