Nefritis lupus adalah komplikasi serius dari lupus eritematosus sistemik (LES), yaitu penyakit autoimun dimana sistem kekebalan yang seharusnya melawan infeksi justru menyerang jaringan tubuh sendiri. Pada kondisi ini, peradangan muncul di ginjal, terutama pada bagian glomerulus yang berfungsi sebagai penyaring darah untuk membuang kelebihan cairan dan zat sisa metabolisme tubuh. Jika tidak dikenali dan ditangani, kerusakan yang terjadi dapat berujung pada gagal ginjal permanen. Secara global, 40–60% penderita lupus mengalami gangguan ginjal selama perjalanan penyakitnya. Kondisi ini lebih sering pada pasien lupus laki-laki dan kelompok etnis Asia, Afrika, serta Hispanik. Faktor genetik, lingkungan, dan hormon turut memengaruhi risiko terjadinya nefritis lupus [1,2].
Nefritis lupus terjadi karena terbentuknya antibodi yang salah mengenali struktur ginjal sebagai ancaman. Antibodi tersebut membentuk kompleks imun yang menempel di glomerulus dan memicu peradangan terus menerus. Akibatnya, fungsi penyaringan ginjal terganggu, protein dan sel darah merah bocor ke urin, serta berbagai zat sisa menumpuk di dalam tubuh [1,4]. Selain antibodi anti-dsDNA, komponen imun lain seperti komplemen (C3, C4) juga berperan dalam mekanisme peradangan ini. Aktivitas lupus yang tinggi di darah sering mencerminkan aktivitas di ginjal, sehingga pemeriksaan darah dan urin rutin penting dilakukan pada semua pasien lupus, bahkan ketika tidak ada gejala ginjal yang jelas [3,4].
Risiko mengalami nefritis lupus lebih tinggi pada pasien lupus dengan kadar antibodi anti-dsDNA yang tinggi, kadar komplemen yang rendah, atau penyakit lupus yang aktif. Keterlambatan diagnosis, ketidakpatuhan obat, dan infeksi dapat memperparah kondisi ginjal [2,3]. Gejalanya pun sering tidak spesifik: bengkak di wajah atau tungkai, urin berbusa, tekanan darah tinggi, atau urin kemerahan akibat darah. Tidak jarang pasien baru mengetahui adanya masalah setelah pemeriksaan laboratorium menunjukkan proteinuria atau peningkatan kreatinin [1,4,5].
Diagnosis dimulai dengan pemeriksaan urin dan darah untuk melihat kadar kreatinin, protein, serta antibodi lupus. Jika terdapat kecurigaan keterlibatan ginjal, dokter biasanya merekomendasikan biopsi ginjal, yaitu pengambilan sampel jaringan kecil untuk diperiksa di bawah mikroskop. Hasil biopsi inilah yang menentukan klasifikasi nefritis lupus dan menjadi panduan utama dalam menentukan terapi serta memperkirakan prognosis penyakit [1,4].
Pengobatan nefritis lupus bertujuan menekan peradangan dan mencegah kerusakan ginjal menetap. Terapi dilakukan dalam dua tahap, yaitu fase induksi dan fase pemeliharaan. Pada fase induksi, pasien biasanya mendapat imunosupresif dosis tinggi berupa kortikosteroid (prednison atau metilprednisolon) bersama siklofosfamid atau mikofenolat mofetil (MMF). Setelah peradangan terkendali, dosis dipertahankan lebih rendah dalam jangka panjang untuk mencegah kekambuhan [4,6]. Dalam beberapa tahun terakhir, obat biologis seperti belimumab (antibodi monoklonal yang menekan sel B) disetujui sebagai tambahan terapi pada kasus yang sulit dikontrol. Kombinasi belimumab atau voclosporin dengan MMF terbukti meningkatkan peluang remisi tanpa menambah efek samping berat [6,7].
Prognosis nefritis lupus sangat dipengaruhi oleh tipe histologis, tingkat aktivitas penyakit, dan kepatuhan terhadap pengobatan. Dengan terapi yang tepat, lebih dari 60-70% pasien dapat mencapai remisi parsial atau lengkap dalam dua tahun, meskipun kekambuhan tetap mungkin terjadi bila pengobatan dihentikan terlalu cepat [8]. Tanpa kontrol yang baik, nefritis lupus dapat berkembang menjadi gagal ginjal kronis hingga membutuhkan dialisis atau transplantasi ginjal [1,2]. Oleh karena itu, pemeriksaan rutin, kepatuhan obat, dan gaya hidup sehat sangat berperan dalam menjaga fungsi ginjal jangka panjang. Nefritis lupus bukanlah hukuman seumur hidup, dengan deteksi dini dan pengobatan konsisten, banyak pasien tetap dapat hidup aktif dan produktif.
Penulis:

Referensi
- Anders HJ, Saxena R, Zhao MH, Parodis I, Salmon JE, Mohan C. Lupus nephritis. Nat Rev Dis Primers. 2020;6(1):7. doi:10.1038/s41572-019-0141-9
- Almaani S, Meara A, Rovin BH. Update on Lupus Nephritis. Clin J Am Soc Nephrol. 2017;12(5):825-835. doi:10.2215/CJN.05780616
- Tektonidou MG, Dasgupta A, Ward MM. Risk of End-Stage Renal Disease in Patients With Lupus Nephritis, 1971-2015: A Systematic Review and Bayesian Meta-Analysis. Arthritis Rheumatol. 2016;68(6):1432-1441. doi:10.1002/art.39594
- Hahn BH, McMahon MA, Wilkinson A, et al. American College of Rheumatology guidelines for screening, treatment, and management of lupus nephritis. Arthritis Care Res (Hoboken). 2012;64(6):797-808. doi:10.1002/acr.21664
- Anders HJ, Rovin B. A pathophysiology-based approach to the diagnosis and treatment of lupus nephritis. Kidney Int. 2016;90(3):493-501. doi:10.1016/j.kint.2016.05.017
- Appel GB, Contreras G, Dooley MA, et al. Mycophenolate mofetil versus cyclophosphamide for induction treatment of lupus nephritis. J Am Soc Nephrol. 2009;20(5):1103-1112. doi:10.1681/ASN.2008101028
- Furie R, Rovin BH, Houssiau F, et al. Safety and Efficacy of Belimumab in Patients with Lupus Nephritis: Open-Label Extension of BLISS-LN Study. Clin J Am Soc Nephrol. 2022;17(11):1620-1630. doi:10.2215/CJN.02520322
- Davidson JE, Fu Q, Ji B, et al. Renal Remission Status and Longterm Renal Survival in Patients with Lupus Nephritis: A Retrospective Cohort Analysis. J Rheumatol. 2018;45(5):671-677. doi:10.3899/jrheum.161554
