Pernahkah Anda atau orang terdekat mengalami sesak napas yang muncul tiba-tiba, disertai bunyi mengi atau batuk yang tak kunjung reda? Kondisi seperti ini sering kali menjadi tanda asma, salah satu penyakit saluran pernapasan kronis yang paling banyak dijumpai di dunia. Saat ini, diperkirakan lebih dari 300 juta orang hidup dengan asma, dan penyakit ini masih menjadi penyebab tingginya angka kesakitan hingga kematian. Padahal, sebagian besar kasus asma sebenarnya dapat dikendalikan dengan penanganan yang tepat.1-2
Asma adalah penyakit kronis yang menyebabkan saluran napas mengalami peradangan. Akibatnya, saluran napas menjadi lebih sensitif terhadap berbagai rangsangan sehingga mudah menyempit ketika terpapar pemicu tertentu. Penyempitan ini membuat aliran udara keluar-masuk paru-paru terganggu dan menimbulkan keluhan seperti sesak napas, mengi (napas berbunyi), batuk, atau dada terasa berat.1-2
Perlu diketahui bahwa asma menimbulkan gejala penyakit yang sama pada setiap orang. Ada penderita yang hanya mengalami gejala sesekali, sementara yang lain dapat mengalami serangan berulang dengan tingkat keparahan yang lebih tinggi. Perbedaan ini dipengaruhi oleh faktor genetik, kondisi sistem kekebalan tubuh, serta lingkungan.1-2
Risiko seseorang mengalami asma dipengaruhi oleh kombinasi faktor keturunan dan lingkungan. Salah satu faktor risiko terbesar adalah riwayat atopi, yaitu kecenderungan genetik untuk mengalami reaksi alergi terhadap zat-zat tertentu seperti debu, serbuk sari, atau bulu hewan. Anak dengan riwayat alergi memiliki risiko lebih besar untuk mengalami asma di kemudian hari. Orang tua dan anggota keluarga dengan riwayat alergi atau penyakit atopik lainnya juga meningkatkan risiko seseorang untuk mengalami asma.1-2
Selain itu, beberapa kondisi lain juga dapat meningkatkan risiko, antara lain lahir prematur, paparan asap rokok selama kehamilan maupun setelah lahir, infeksi virus saluran napas pada masa bayi, serta paparan polusi udara sejak usia dini. Pada orang dewasa, kebiasaan merokok, paparan zat iritan di tempat kerja, riwayat rinitis alergi, obesitas, stres, dan penyakit asam lambung juga dapat berperan memicu atau memperburuk asma.1-2
Dalam kondisi normal, saluran napas memiliki otot polos dan serat elastis yang membantu mengatur keluar-masuknya udara ke paru-paru. Otot ini dapat mengendur atau berkontraksi sesuai kebutuhan, sehingga saluran napas tetap terbuka dan udara mengalir dengan lancar. Pada orang dengan asma, saluran napas bereaksi secara berlebihan terhadap pemicu yang sebenarnya tidak menimbulkan masalah pada orang lain. Saat serangan terjadi, otot-otot di sekitar saluran napas akan mengencang, lapisan dinding saluran napas membengkak akibat peradangan, dan produksi lendir meningkat. Kombinasi ketiga proses ini menyebabkan saluran napas menyempit sehingga udara sulit keluar dan masuk paru-paru..2-3
Saat serangan asma terjadi, tubuh mengalami dua tahap respons. Pada tahap pertama, sistem kekebalan yang telah tersensitisasi oleh alergen mengaktifkan antibodi imunoglobulin E (IgE). Antibodi ini kemudian memicu sel mast untuk melepaskan berbagai zat kimia, seperti histamin, prostaglandin, dan leukotrien. Zat-zat tersebut menyebabkan otot di sekitar saluran napas berkontraksi, sehingga saluran napas menyempit dan timbul gejala sesak napas serta mengi.2-3
Beberapa jam kemudian, respons berlanjut ke fase kedua. Berbagai sel kekebalan, seperti eosinofil, basofil, neutrofil, dan sel T, berkumpul di saluran napas dan mempertahankan proses peradangan. Akibatnya, dinding saluran napas semakin membengkak, produksi lendir meningkat, dan penyempitan saluran napas menjadi lebih berat. Karena itu, penanganan asma tidak cukup hanya meredakan sesak napas, tetapi juga harus mengendalikan peradangan yang menjadi penyebab utamanya.2-3
Jika peradangan berlangsung terus-menerus dan tidak ditangani dengan baik, dinding saluran napas dapat mengalami perubahan struktur permanen atau airway remodeling. Dinding saluran napas menjadi lebih tebal, jumlah otot polos bertambah, dan jaringan parut mulai terbentuk akibat proses peradangan kronis. Perubahan ini membuat saluran napas semakin sempit dan kaku sehingga aliran udara menjadi lebih sulit, bahkan ketika serangan asma sudah mereda.2-3
Gejala asma yang paling sering dirasakan meliputi sesak napas, mengi, batuk, serta rasa berat atau tertekan di dada. Gejala ini sering kali muncul pada malam atau dini hari, maupun setelah berolahraga atau terpapar pemicu tertentu. Sesak napas juga bersifat episodik, yakni adanya periode sesak dirasakan dan periode tanpa gejala. Pemicu asma berbeda pada setiap orang, tetapi yang paling umum meliputi debu rumah, tungau, bulu hewan, serbuk sari, jamur, asap rokok, polusi udara, udara dingin, infeksi saluran pernapasan, aktivitas fisik, hingga perubahan cuaca.1-3
Tingkat keparahan asma juga sangat bervariasi. Sebagian penderita hanya mengalami gejala ringan sesekali, sedangkan sebagian lainnya dapat mengalami serangan berat yang mengancam jiwa. Pada kondisi yang sangat berat, penyempitan saluran napas dapat menyebabkan gagal napas sehingga memerlukan penanganan darurat di rumah sakit.1-3
Dokter akan menegakkan diagnosis berdasarkan keluhan yang dialami pasien, riwayat kesehatan, hingga pemeriksaan fungsi paru. Pemeriksaan yang paling sering digunakan adalah spirometri, yaitu tes untuk mengukur kemampuan paru-paru dalam mengalirkan udara. Bila aliran udara membaik setelah pemberian obat pelega saluran napas, hasil tersebut mendukung diagnosis asma.1-3
Hingga saat ini asma memang belum dapat disembuhkan secara total, tetapi penyakit ini dapat dikendalikan sehingga penderitanya tetap dapat menjalani aktivitas sehari-hari secara normal. Penanganan asma tidak hanya bergantung pada obat, tetapi juga mencakup edukasi pasien, menghindari faktor pencetus, memantau gejala secara rutin, dan melakukan kontrol berkala ke tenaga kesehatan.1-3
Secara umum, obat asma terdiri atas dua kelompok. Pertama adalah obat pelega (reliever) yang digunakan saat gejala muncul untuk membuka saluran napas dengan cepat. Kedua adalah obat pengontrol (controller) yang digunakan secara rutin untuk mengurangi peradangan sehingga mencegah kekambuhan. Pemberian jenis obat asma bergantung pada frekuensi serangan dan tingkat keparahan asma. Panduan terbaru dari Global Initiative for Asthma (GINA) menegaskan bahwa remaja dan orang dewasa dengan asma sebaiknya mendapatkan terapi yang mengandung kortikosteroid inhalasi (ICS). Penggunaan inhaler pelega saja tanpa obat pengontrol tidak lagi dianjurkan karena dapat meningkatkan risiko serangan asma berat di kemudian hari.3-4
Meskipun belum dapat disembuhkan, asma bukanlah penghalang untuk tetap hidup aktif. Dengan pengobatan yang teratur, menghindari faktor pencetus, dan kontrol rutin sesuai anjuran dokter, sebagian besar penyandang asma dapat menjalani kehidupan yang sehat, produktif, dan minim gangguan akibat penyakitnya.1-4
Penulis

Referensi
- Goldin J, Cataletto ME. Asthma [Updated 2024 May 3]. In: StatPearls [Internet]. Treasure Island (FL): StatPearls Publishing; 2024 May 3. Available from: https://www.ncbi.nlm.nih.gov/books/NBK430901/
- Castilo JR, Peters SP, Busse WW. Asthma exacerbations: Pathogenesis, prevention, and treatment. J Allergy Clin Immunol Pract. 2017 Jul 6;5(4):918–27.
- Sinyor B, Concepcion Perez L. Pathophysiology of asthma [Updated 2023 Jun 24]. In: StatPearls [Internet]. Treasure Island (FL): StatPearls Publishing; 2026 Jan. Available from: https://www.ncbi.nlm.nih.gov/books/NBK551579/
- Dubin S, Patak P, Jung D. Update on asthma management guidelines. Mo Med. 2024 Sep-Oct;121(5):364–67.
