Mengapa Reaksi Alergi Bisa Terjadi Saat Pemeriksaan CT-Scan atau MRI? Mengenali Kondisi Alergi Zat Kontras

You are currently viewing Mengapa Reaksi Alergi Bisa Terjadi Saat Pemeriksaan CT-Scan atau MRI? Mengenali Kondisi Alergi Zat Kontras

Alergi terhadap zat kontras adalah reaksi tubuh yang terjadi setelah pemberian bahan khusus pada pemeriksaan radiologi seperti CT-scan, angiografi, atau MRI. Zat kontras digunakan untuk membantu dokter melihat organ dan pembuluh darah dengan lebih jelas. Meskipun sebagian besar pasien menerima zat ini dengan aman, sebagian kecil dapat mengalami reaksi hipersensitivitas, mulai dari ringan hingga mengancam nyawa [1].

Secara imunologi, reaksi alergi kontras termasuk dalam reaksi hipersensitivitas obat. Pada sebagian pasien, mekanisme reaksi ini dimediasi oleh antibodi IgE, mirip alergi klasik. Namun, banyak reaksi terjadi melalui mekanisme non-IgE, yaitu aktivasi langsung sel mast dan basofil yang melepaskan histamin serta mediator inflamasi lainnya tanpa sensitisasi sebelumnya. Pelepasan mediator inilah yang menimbulkan gejala seperti gatal, ruam, sesak napas, atau penurunan tekanan darah [1,2].

Berdasarkan waktu munculnya, reaksi dibagi menjadi immediate (dalam hitungan menit hingga satu jam) dan non-immediate (muncul beberapa jam hingga beberapa hari kemudian). Reaksi segera atau immediate reactions cenderung lebih serius dan bisa mengancam nyawa. Epidemiologi modern menunjukkan insiden reaksi alergi sekitar 0.3–1.4% untuk zat kontras, dimana reaksi berat seperti anafilaksis sangat jarang terjadi sekitar <0.005% [1-3].

Beberapa faktor risiko telah diidentifikasi. Faktor terpenting adalah riwayat reaksi terhadap zat kontras sebelumnya. Pasien dengan asma yang tidak terkontrol juga memiliki risiko lebih tinggi. Beberapa studi juga riwayat alergi kronik seperti rhinitis alergi, urtikaria, dermatitis alergi, serta riwayat alergi obat meningkatkan risiko alergi kontras [4]. Faktor genetik dan riwayat keluarga dengan reaksi terhadap kontras mungkin juga berperan, meski bukti masih terbatas [1].

Gejala bervariasi. Reaksi ringan meliputi gatal, ruam kemerahan, atau urtikaria. Reaksi sedang dapat memicu batuk, sesak napas ringan, mual, atau muntah. Reaksi berat termasuk pembengkakan wajah/tenggorokan, sesak napas berat, penurunan tekanan darah, dan syok anafilaksis, yang memerlukan penanganan medis segera [2]. Diagnosis biasanya didasarkan pada riwayat klinis dan hubungan waktu antara pemberian zat kontras dengan munculnya gejala. Pasien dengan riwayat reaksi sedang/berat dapat menjalani evaluasi oleh dokter alergi, termasuk uji kulit atau pemilihan kontras alternatif [3].

Penatalaksanaan tergantung tingkat keparahan. Reaksi ringan dapat ditangani dengan antihistamin dan observasi. Reaksi sedang hingga berat memerlukan oksigenasi, cairan intravena, kortikosteroid, dan epinefrin bila terjadi anafilaksis. Strategi pencegahan bagi pasien berisiko tinggi dapat termasuk premedikasi dengan steroid/antihistamin, penggunaan kontras alternatif, dan pengawasan ketat selama pemberian zat kontras [1,3,5]. Prognosis umumnya baik jika reaksi ringan atau sedang ditangani tepat. Pasien biasanya pulih tanpa dampak jangka panjang. Namun, edukasi mengenai riwayat alergi kontras tetap penting agar tenaga kesehatan dapat mengambil langkah pencegahan di masa depan [1,3].

Penulis:

Referensi

  1. Wang C, Ramsey A, Lang D, Copaescu AM, Krishnan P, Kuruvilla M, et al. Management and prevention of hypersensitivity reactions to radiocontrast media: a consensus statement. J Allergy Clin Immunol Pract. 2025;13(5):1029–1047.
  2. van der Molen AJ, van de Ven AAJM, Vega F, Dekkers IA, Geenen RWF, Bellin MF, et al. Hypersensitivity reactions to contrast media: Part 1. Management of immediate and non-immediate hypersensitivity reactions in adults. Eur Radiol. 2025;35(11):6798–6810.
  3. van der Molen AJ, van de Ven AAJM, Vega F, Dekkers IA, Geenen RWF, Bellin MF, et al. Hypersensitivity reactions to contrast media: Part 2. Prevention of recurrent hypersensitivity reactions in adults. Eur Radiol. 2025;35(11):6811–6825.
  4. Brockow K, Christiansen C, Kanny G, et al. Management of hypersensitivity reactions to iodinated contrast media. Allergy. 2005;60:150–158.
  5. Chen Hsieh H, Wu SC, Kosik RO, Huang YC, Chan WP. Pharmacological prevention of hypersensitivity reactions caused by iodinated contrast media: a systematic review and meta-analysis. Diagnostics (Basel). 2022;12(7):1673.