Human papillomavirus (HPV) adalah kelompok virus yang dapat menginfeksi kulit maupun selaput lendir. Infeksi HPV terutama menyebar melalui kontak langsung kulit ke kulit, khususnya melalui aktivitas seksual vaginal, anal, maupun oral dengan individu yang terinfeksi. Penularan dapat terjadi bahkan ketika orang yang terinfeksi tidak memiliki gejala yang terlihat.Sebagian besar orang yang aktif secara seksual akan terpapar HPV setidaknya sekali sepanjang hidupnya.(1-2)
HPV memiliki lebih dari 100 tipe, dengan lebih dari 40 tipe dapat ditularkan melalui hubungan seksual. Infeksi HPV dibagi menjadi HPV tipe risiko rendah dan tipe risiko tinggi. HPV tipe risiko rendah, seperti HPV 6 dan 11, menyebabkan penyakit kutil pada kulit ataupun area kelamin. Sementara itu, infeksi HPV tipe risiko tinggi, yakni HPV 16 dan HPV 18, berkaitan erat dengan kanker serviks. Infeksi HPV sering kali tidak menimbulkan gejala, sehingga seseorang bisa terinfeksi tanpa menyadarinya. Pada sebagian besar kasus, infeksi sembuh spontan. Namun sekitar 10% infeksi dapat menetap dan menyebabkan lesi prakanker yang berkembang perlahan selama bertahun-tahun hingga menjadi kanker serviks.(2)
Pada infeksi oleh tipe risiko tinggi, gejala sering kali tidak muncul hingga terjadi perubahan sel yang lebih serius. Karena itu, seseorang dapat mengalami infeksi persisten selama bertahun-tahun tanpa tanda khusus. Jika infeksi berkembang menjadi kanker serviks, gejala yang dapat muncul meliputi perdarahan vagina tidak normal (misalnya setelah berhubungan seksual, di luar menstruasi, atau setelah menopause), nyeri panggul, nyeri saat berhubungan seksual, keputihan berbau atau bercampur darah, serta pada stadium lanjut dapat terjadi penurunan berat badan, kelelahan, atau gangguan berkemih.(1-2)
Kanker serviks adalah salah satu kanker dengan kasus paling banyak pada perempuan di seluruh dunia, terutama di negara berpenghasilan rendah dan menengah yang akses skrining serta vaksinasi masih terbatas. Hampir seluruh kasus kanker serviks berhubungan dengan infeksi HPV persisten, dan sekitar 95% kasus global disebabkan oleh HPV 16 dan 18. Dengan tambahan beberapa tipe risiko tinggi lainnya, lebih dari 90% beban kanker serviks sebenarnya berpotensi dicegah melalui vaksinasi. Kanker serviks seringkali berkembang tanpa gejala pada tahap awal. Banyak pasien baru terdiagnosis saat stadium lanjut. Oleh karena itu, pencegahan melalui vaksinasi HPV dan skrining serviks sangat penting untuk menghindari kanker serviks.(2)
Vaksin HPV bekerja dengan merangsang tubuh membentuk antibodi terhadap tipe HPV tertentu sebelum seseorang terpapar virus. Vaksin ini mencegah infeksi, tetapi tidak mengobati infeksi yang sudah ada. Karena itu, vaksin paling efektif diberikan sebelum seseorang aktif secara seksual. Berbagai penelitian menunjukkan bahwa vaksin HPV memiliki efektivitas dan keamanan yang sangat baik dalam mencegah penyakit terkait HPV. Vaksin ini mampu memberikan perlindungan lebih dari 90% terhadap lesi prakanker serviks yang disebabkan oleh tipe HPV yang menjadi target vaksin, terutama bila diberikan sebelum paparan awal terhadap virus. Selain itu, vaksinasi juga terbukti menurunkan risiko infeksi HPV persisten, yaitu infeksi yang menetap dalam jangka panjang dan berpotensi berkembang menjadi kanker. Beberapa jenis vaksin, seperti vaksin quadrivalent dan nonavalent, juga memberikan perlindungan tambahan terhadap kutil kelamin yang umumnya disebabkan oleh HPV tipe 6 dan 11. Studi juga menemukan bahwa perlindungan vaksin dapat bertahan selama bertahun-tahun dengan respons imun yang stabil, sehingga hingga saat ini belum diperlukan booster rutin setelah seri vaksinasi lengkap.(2)
Saat ini terdapat tiga jenis utama vaksin HPV yang digunakan untuk mencegah infeksi oleh tipe HPV tertentu. Vaksin bivalent (2-valen) memberikan perlindungan terhadap HPV tipe 16 dan 18, dua tipe risiko tinggi yang paling sering menyebabkan kanker serviks, sehingga terutama difokuskan pada pencegahan kanker serviks. Vaksin quadrivalent (4-valen) melindungi terhadap HPV tipe 6, 11, 16, dan 18; selain membantu mencegah kanker serviks, vaksin ini juga efektif dalam mencegah sebagian besar kasus kutil kelamin yang disebabkan oleh HPV 6 dan 11. Sementara itu, vaksin nonavalent (9-valen) menawarkan cakupan paling luas dengan melindungi terhadap sembilan tipe HPV, yaitu 6, 11, 16, 18, 31, 33, 45, 52, dan 58. Dengan perlindungan yang lebih komprehensif, vaksin nonavalent diperkirakan dapat mencegah hingga sekitar 90% kasus kanker serviks.(3-4)
Berdasarkan Rekomendasi Satgas Imunisasi Dewasa PAPDI Tahun 2025, vaksinasi HPV untuk perempuan dapat menggunakan vaksin HPV bivalent, quadrivalent, ataupun nonavalent dengan waktu terbaik sebelum aktif secara seksual. Jika belum mendapat vaksinasi HPV saat sudah menikah atau aktif secara seksual, vaksinasi HPV tetap bermanfaat karena masih dapat memberikan perlindungan terhadap tipe HPV yang belum pernah menginfeksi seseorang. Vaksinasi HPV dilakukan sebanyak 3 dosis pada bulan ke-0, 2, dan 6. Pada orang yang telah mendapat vaksin HPV bivalent atau quadrivalent sebelumnya, dapat diberikan vaksin HPV nonavalent sebanyak 3 dosis dengan interval pemberian 1 tahun setelah dosis vaksinasi terakhir. Sementara pada individu yang sebelumnya mendapatkan vaksin HPV bivalent atau quadrivalent yang belum komplit seri vaksinasinya, dapat dilanjutkan dengan HPV nonavalent satu seri sebanyak 3 dosis. Perlu diperhatikan bahwa vaksinasi HPV tidak menggantikan pemeriksaan Pap Smear ataupun IVA yang tetap harus dilakukan untuk deteksi dini.(3)

Human papillomavirus (HPV) adalah infeksi yang sering kali tidak menimbulkan gejala, tetapi infeksi persisten oleh tipe HPV risiko tinggi—terutama HPV 16 dan 18—dapat menyebabkan kanker serviks, salah satu kanker tersering pada perempuan di dunia. Karena kanker serviks biasanya berkembang perlahan dan sering tanpa gejala pada tahap awal, pencegahan melalui vaksinasi HPV menjadi langkah penting untuk melindungi dari tipe virus penyebab utama kanker serviks, sekaligus pada beberapa jenis vaksin juga mencegah kutil kelamin. Vaksinasi HPV sesuai jadwal dan skrining rutin dapat berperan besar dalam menurunkan angka kesakitan dan kematian akibat kanker serviks.(1-4)
Penulis:

Referensi:
- Bergman H, Henschke N, Arevalo-Rodriguez I, Buckley BS, Crosbie EJ, Davies JC, et al. Human papillomavirus (HPV) vaccination for the prevention of cervical cancer and other HPV-related diseases: a network meta-analysis. Cochrane Database Syst Rev. 2025;11(11):CD015364.
- Choi S, Ismail A, Pappas-Gogos G, Boussios S. HPV and cervical cancer: a review of epidemiology and screening uptake in the UK. Pathogens. 2023;12(2):298.
- Satgas Imunisasi Dewasa PAPDI. Jadwal imunisasi dewasa. Jakarta: 2025.
- Williamson AL. Recent developments in human papillomavirus (HPV) vaccinology. Viruses. 2023;15(7):1440.
