Benjolan Merah yang Nyeri di Kaki: Kenali Eritema Nodosum!

You are currently viewing Benjolan Merah yang Nyeri di Kaki: Kenali Eritema Nodosum!

Eritema nodosum merupakan kondisi peradangan pada jaringan lemak di bawah kulit, terutama di area tulang kering kaki. Kondisi ini ditandai oleh benjolan merah, nyeri, dan hangat saat disentuh. Dari sudut pandang keilmuan alergi dan imunologi, kondisi ini tidak hanya sekadar masalah kulit, tetapi merupakan manifestasi reaksi imun tubuh terhadap berbagai pemicu. Eritema nodosum banyak terjadi pada wanita usia 18–34 tahun, namun dapat pula muncul pada semua kelompok usia [1].

Mekanisme terjadinya eritema nodosum dapat dijelaskan oleh reaksi imun tipe lambat. Saat tubuh terpapar antigen tertentu, misalnya bakteri, virus, obat, atau molekul yang berasal dari proses peradangan internal, sel imun diaktifkan dan memicu inflamasi. Neutrofil awalnya masuk ke sekat antar jaringan lemak dan melepaskan radikal bebas yang menyebabkan kerusakan jaringan, diikuti oleh masuknya makrofag, histiosit, dan limfosit. Sel-sel ini memproduksi senyawa proinflamasi seperti TNF-α dan IFN-γ yang memperkuat reaksi. Proses ini membentuk granuloma kecil khas yang disebut Miescher’s radial granulomas, yang dapat ditemukan pada pemeriksaan patologi anatomi [2].

Beberapa pemicu eritema nodosum yang diketahui diantaranya adalah infeksi, obat-obatan, dan penyakit autoimun, namun sebesar 30-50% kasus tidak diketahui penyebabnya [2]. Infeksi menjadi pemicu tersering, khususnya Streptococcus pada anak muda; diikuti tuberkulosis di negara endemik; serta infeksi virus seperti Epstein–Barr atau virus saluran napas. Obat-obatan juga dapat memicu reaksi imun ini, terutama kontrasepsi oral, antibiotik sulfa, dan beberapa antihipertensi. Dari sudut pandang imunologi klinis, yang menarik adalah hubungan erat antara eritema nodosum dan penyakit autoimun seperti sarkoidosis, penyakit radang usus (Crohn dan kolitis ulseratif), serta penyakit Behçet. Dalam kondisi tersebut, sistem imun yang terlalu aktif dapat menyerang pula jaringan lemak subkutan sehingga timbul nodul merah yang khas [3].

Faktor risiko terjadinya eritema nodosum mencakup riwayat infeksi sebelumnya, penggunaan obat tertentu, adanya penyakit autoimun, riwayat keluarga dengan gangguan imun, serta kehamilan karena perubahan imunologis dan hormonal. Pada sebagian orang, terutama individu dengan predisposisi genetik, paparan antigen ringan saja sudah cukup memicu respons imun berlebihan [4].

Secara klinis, eritema nodosum ditandai oleh benjolan merah, bulat, dan nyeri tekan, berukuran 1–6 cm, biasanya terletak simetris di kedua tulang kering. Pada beberapa kasus juga muncul di paha atau lengan. Benjolan dapat berubah warna seperti memar dari merah menjadi kebiruan lalu kekuningan selama 2–6 minggu. Gejala penyerta seperti demam, kelelahan, atau nyeri sendi sering muncul karena reaksi peradangan sistemik. Tidak seperti abses, nodul tidak berisi nanah dan tidak akan mengalami ulserasi [5].

Diagnosis eritema nodosum umumnya ditegakkan secara klinis melalui pemeriksaan fisik dan riwayat kesehatan. Pemeriksaan tambahan seperti tes darah, swab tenggorokan, foto toraks (untuk menilai sarkoidosis atau tuberkulosis), serta tes infeksi dapat dilakukan untuk mencari penyebab. Pada kasus meragukan, biopsi kulit dapat dilakukan dan akan menunjukkan inflamasi septal tanpa vasculitis yang khas untuk kondisi ini [2,5]. Menentukan pemicu dari eritema nodosum sangat penting karena prognosis penyakit sangat dipengaruhi oleh eliminasi penyebabnya.

Tatalaksana eritema nodosum fokus pada meredakan peradangan dan mengatasi faktor pencetus. Pada sebagian besar kasus, perawatan berupa istirahat dan elevasi kaki, kompres dingin, serta penggunaan obat anti-inflamasi non-steroid (NSAID) seperti ibuprofen dapat membantu. Bila disebabkan infeksi Streptococcus, antibiotik dapat diberikan pada pasien. Pada kasus terkait penyakit autoimun atau inflamasi berat, dokter dapat meresepkan kortikosteroid sistemik atau terapi imunomodulator sesuai indikasi. Akan tetapi, penggunaan steroid harus dilakukan dengan hati-hati, terutama jika infeksi tuberkulosis belum dapat disingkirkan [5,6].

Prognosis eritema nodosum umumnya baik karena sebagian besar kasus membaik dalam 3–6 minggu tanpa komplikasi [2,5]. Namun pada pasien dengan penyakit autoimun atau inflamasi kronik, kekambuhan bisa terjadi dan menjadi indikator bahwa penyakit dasarnya sedang aktif. Meskipun bukan penyakit yang berbahaya, eritema nodosum penting untuk dikenali karena sering menjadi “alarm” tubuh terhadap kondisi imunologis yang lebih signifikan.

Penulis:

Referensi

  1. Passarini B, Infusino SD. Erythema nodosum. G Ital Dermatol Venereol. 2013;148(4):413-417.
  2. Schwartz RA, Nervi SJ. Erythema nodosum: a sign of systemic disease. Am Fam Physician. 2007;75(5):695-700.
  3. Chowaniec M, Starba A, Wiland P. Erythema nodosum – review of the literature. Reumatologia. 2016;54(2):79-82. doi:10.5114/reum.2016.60217
  4. Hafsi W, Badri T. Erythema Nodosum. StatPearls Publishing; 2025 Jan- [Updated 2022 Nov 28]. Available from: https://www.ncbi.nlm.nih.gov/books/NBK470369/
  5. Pérez-Garza DM, Chavez-Alvarez S, Ocampo-Candiani J, Gomez-Flores M. Erythema Nodosum: A Practical Approach and Diagnostic Algorithm. Am J Clin Dermatol. 2021;22(3):367-378. doi:10.1007/s40257-021-00592-w
  6. Leung AKC, Leong KF, Lam JM. Erythema nodosum. World J Pediatr. 2018;14(6):548-554. doi:10.1007/s12519-018-0191-1