Vaskulitis adalah kondisi ketika pembuluh darah seseorang mengalami peradangan. Pembuluh darah berfungsi untuk membawa darah berisi oksigen dan nutrisi ke seluruh tubuh. Saat dinding pembuluh darah meradang, dapat terjadi penebalan dinding dan penyempitan rongga pembuluh yang menyebabkan aliran darah ke jaringan terganggu. Dengan demikian, organ yang seharusnya mendapatkan oksigen dan nutrisi dapat mengalami kerusakan. Vaskulitis bukanlah satu penyakit tunggal, melainkan terdiri atas kelompok penyakit dengan berbagai penyebab, gejala, dan tingkat keparahan yang berbeda-beda (1).
Penyebab pasti vaskulitis sering kali tidak diketahui, tetapi pada banyak kasus, sistem kekebalan tubuh berperan besar. Dalam keadaan normal, sistem imun melindungi tubuh dari infeksi. Namun pada vaskulitis, sistem imun justru keliru menyerang dinding pembuluh darah sendiri, menyebabkan peradangan kronis. Kondisi ini dikenal sebagai proses autoimun (1). Selain reaksi autoimun, vaskulitis juga dapat dipicu oleh infeksi seperti hepatitis B atau C yang menimbulkan reaksi imun terhadap pembuluh darah (2). Beberapa obat, seperti antibiotik atau antikonvulsan, juga dapat menimbulkan reaksi alergi yang menyebabkan peradangan pembuluh darah kecil (3). Selain itu, vaskulitis bisa terjadi sebagai bagian dari penyakit autoimun lain seperti lupus atau rheumatoid arthritis (1). Siapa pun bisa mengalami vaskulitis, tetapi jenisnya dapat berbeda tergantung usia. Misalnya, arteritis temporalis biasanya menyerang orang berusia lanjut, sedangkan penyakit Kawasaki lebih sering mengenai anak-anak (1,4).
Gejala vaskulitis sangat bervariasi tergantung pembuluh darah dan organ yang terlibat. Pada tahap awal, penderita sering mengalami keluhan umum seperti demam, kelelahan, penurunan berat badan tanpa sebab jelas, serta nyeri otot dan sendi. Bila pembuluh darah kulit terkena, dapat muncul ruam merah keunguan yang tidak hilang saat ditekan (disebut purpura). Jika menyerang saraf, penderita mungkin merasakan kesemutan atau mati rasa. Apabila melibatkan paru, bisa timbul batuk berdarah atau sesak napas. Sementara itu, keterlibatan ginjal dapat menimbulkan darah dalam urine, bengkak, atau tekanan darah tinggi. Gejala berat seperti gagal ginjal atau perdarahan paru dapat terjadi bila peradangan tidak segera ditangani (1,4).
Vaskulitis dapat dikelompokkan berdasarkan ukuran pembuluh darah yang terkena. Pada vaskulitis pembuluh besar, seperti arteritis sel raksasa dan Takayasu arteritis, peradangan terjadi pada arteri utama yang membawa darah dari jantung. Vaskulitis pembuluh sedang, seperti poliarteritis nodosa dan penyakit Kawasaki, biasanya menyerang arteri yang memasok darah ke organ seperti ginjal, saraf, atau jantung. Sedangkan vaskulitis pembuluh kecil, seperti granulomatosis dengan poliangiitis (GPA), mikroskopik poliangiitis (MPA), dan IgA vasculitis (Henoch–Schönlein purpura), umumnya mengenai pembuluh darah di paru, ginjal, atau kulit (4).
Untuk memastikan diagnosis vaskulitis, dokter biasanya melakukan pemeriksaan menyeluruh. Tes darah digunakan untuk menilai tanda-tanda peradangan, misalnya peningkatan laju endap darah (LED) dan C-reactive protein (CRP). Pemeriksaan autoantibodi seperti ANCA dapat membantu mengidentifikasi jenis vaskulitis tertentu (1,4). Tes urine digunakan untuk melihat apakah ginjal ikut terlibat, misalnya dengan munculnya protein atau darah dalam urine. Pemeriksaan pencitraan seperti CT angiografi atau MRI dapat memperlihatkan adanya penyempitan atau pelebaran pembuluh darah besar. Namun, pemeriksaan yang paling pasti adalah biopsi jaringan, yaitu pengambilan sampel kecil dari area yang dicurigai untuk diperiksa di bawah mikroskop (4).
Penanganan vaskulitis bertujuan mengendalikan peradangan dan mencegah kerusakan organ. Obat utama yang digunakan adalah kortikosteroid, seperti prednison, yang efektif menekan aktivitas sistem imun. Namun, penggunaan jangka panjang dapat menyebabkan efek samping seperti peningkatan gula darah, tulang rapuh, dan risiko infeksi. Bila penyakit berat atau tidak cukup terkendali dengan kortikosteroid saja, dokter dapat menambahkan obat imunosupresif lain seperti azathioprine, methotrexate, atau cyclophosphamide. Dalam beberapa tahun terakhir, obat biologik seperti rituximab, yang menargetkan sel imun tertentu, telah menjadi terapi pilihan untuk vaskulitis tipe ANCA (5).
Prognosis vaskulitis sangat bergantung pada jenis dan kecepatan diagnosisnya. Dengan pengobatan modern, sebagian besar pasien dapat mencapai remisi, artinya penyakit tidak aktif dan gejala menghilang. Namun, kekambuhan bisa terjadi, terutama bila pengobatan dihentikan terlalu dini. Oleh karena itu, pasien biasanya memerlukan pemantauan rutin jangka panjang oleh dokter spesialis penyakit dalam (5).
Masyarakat perlu waspada terhadap tanda-tanda yang mungkin mengarah ke vaskulitis. Segera periksakan diri ke dokter bila mengalami gejala seperti ruam ungu yang tidak hilang bila ditekan, nyeri kepala hebat disertai gangguan penglihatan, batuk darah, urine berwarna gelap, atau demam berkepanjangan tanpa sebab jelas. Deteksi dini dan terapi yang tepat dapat mencegah komplikasi berat seperti gagal ginjal, stroke, atau kerusakan paru permanen (4).
Secara keseluruhan, vaskulitis merupakan penyakit yang kompleks namun kini semakin dapat dikendalikan dengan pengobatan yang tepat. Kemajuan dalam terapi imunosupresif dan biologik telah meningkatkan kualitas hidup serta harapan hidup pasien secara signifikan dibandingkan beberapa dekade lalu. Pada penanganan vaskulitis, waktu adalah faktor yang sangat menentukan. Dengan pemahaman yang lebih baik tentang penyakit ini, diharapkan masyarakat dapat lebih cepat mengenali gejala dan mencari pertolongan medis.
Penulis :

Referensi
- Ralli M, Campo F, Angeletti D, et al. Pathophysiology and therapy of systemic vasculitides. EXCLI J. 2020;19:817-854. Published 2020 Jun 18. doi:10.17179/excli2020-1512
- Bourgarit A, Le Toumelin P, Pagnoux C, Cohen P, Mahr A, Le Guern V, et al. Deaths occurring during the first year after treatment onset for polyarteritis nodosa, microscopic polyangiitis, and Churg-Strauss syndrome: a retrospective analysis of causes and factors predictive of mortality based on 595 patients. Medicine (Baltimore) 2005;84:323–330. doi: 10.1097/01.md.0000180793.80212.17.
- Radić M, Martinović Kaliterna D, Radić J. Drug-induced vasculitis: a clinical and pathological review. Neth J Med. 2012;70(1):12-17.
- Sharma P, Sharma S, Baltaro R, Hurley J. Systemic vasculitis. Am Fam Physician. 2011;83(5):556-565.
- Day J, Crawshaw H, Lim KW, Pauling JD, Gunawardena H. An Update on Vasculitis for the General Physician. Br J Hosp Med (Lond). 2025;86(3):1-21. doi:10.12968/hmed.2024.0435
