Apa Itu Cacar Api? Cacar api atau cacar ular dalam dunia medis dikenal sebagai herpes zooster yaitu infeksi virus yang menyebabkan ruam kulit yang menyakitkan dengan lepuhan. Penyakit ini disebabkan oleh reaktivasi (bangunnya kembali) virus varicella zooster – virus yang sama yang menyebabkan cacar air.
Menariknya, cacar api hanya bisa menyerang seseorang yang dulu pernah terkena cacar air (varicella). Setelah Anda sembuh dari cacar air, virus ini tidak benar-benar pergi dari tubuh. Ia “bersembunyi” di dalam sistem saraf, lalu bisa “bangun” kembali puluhan tahun kemudian dalam bentuk cacar api. Artikel ini akan mengupas tuntas apa itu cacar api, mengapa ia muncul, dan bagaimana cara terbaik untuk mencegahnya.
Cacar api adalah penyakit yang ditandai dengan ruam kulit berisi cairan (lepuh) yang terletak di satu sisi tubuh atau wajah, disertai rasa nyeri seperti terbakar atau tertusuk jarum. Rasa nyeri inilah yang membedakannya dari penyakit kulit lainnya. Menurut laporan dari Advisory Committee on Immunization Practices (ACIP) yang dipublikasikan di MMWR pada tahun 2008, risiko seseorang terkena cacar api sepanjang hidupnya mencapai sekitar 30%, dan angka ini meningkat seiring bertambahnya usia [1]. Para peneliti Eropa dalam studi sistematiknya juga menemukan bahwa hampir semua orang dewasa di atas 40 tahun memiliki antibodi terhadap virus varicella, artinya mereka pernah terpapar virus ini di masa lalu dan berpotensi mengalami cacar api suatu saat nanti [2].
Mengapa Virus yang “Tidur” Bisa Bangun Kembali?
Setelah Anda sembuh dari cacar air, virus VZV tidak mati. Ia bermigrasi ke ganglion saraf (kumpulan sel saraf) di dekat sumsum tulang belakang dan “tertidur” (laten). Selama sistem kekebalan tubuh Anda kuat, ia akan terus “menahan” virus tersebut. Namun, seiring bertambahnya usia atau saat daya tahan tubuh menurun karena stres, kelelahan, penyakit kronis, atau pengobatan tertentu, sistem imun tidak lagi mampu mengendalikan virus. Virus pun “bangun”, berkembang biak, dan berjalan menyusuri serabut saraf menuju permukaan kulit, menimbulkan ruam khas di area yang dipersarafi oleh saraf tersebut. Inilah mengapa ruam cacar api selalu berada di satu sisi tubuh (kiri atau kanan) dan tidak pernah melintasi garis tengah tubuh.
Siapa yang Paling Berisiko?
Berdasarkan data dari para ahli, kelompok berikut memiliki risiko lebih tinggi terkena cacar api:
- Lansia di atas 50 tahun. Usia adalah faktor risiko terkuat. Dr. Harpaz dan kolega dalam rekomendasi ACIP menekankan bahwa separuh dari semua kasus cacar api terjadi pada orang berusia 60 tahun ke atas [1].
- Orang dengan sistem imun lemah, misalnya penderita HIV/AIDS, kanker, atau penerima transplantasi organ.
- Orang yang sedang mengalami stres berat atau trauma fisik.
- Perempuan, meskipun alasannya belum sepenuhnya dipahami.
Yang membedakan cacar api dari ruam biasa adalah nyeri yang mendahului ruam. Biasanya 1-3 hari sebelum muncul bintik-bintik merah, Anda akan merasakan sensasi aneh di satu sisi tubuh: seperti terbakar, tertusuk, kesemutan, atau gatal yang luar biasa. Setelah itu, muncullah:
- Kelompok bintik merah yang cepat berubah menjadi lepuhan berisi cairan jernih.
- Lepuhan ini kemudian mengering dan membentuk kerak dalam waktu 7–10 hari.
- Rasa nyeri bisa tetap terasa meski ruam sudah kering.
Yang paling ditakuti dari cacar api bukanlah ruamnya, melainkan komplikasinya. Komplikasi yang Perlu Diwaspadai adalah Neuralgia Pascaherpetik Komplikasi paling umum dan paling mengganggu adalah nyeri saraf berkepanjangan yang disebut post-herpetic neuralgia (PHN). Ini adalah rasa nyeri yang menetap di area bekas ruam, bahkan setelah kulit sembuh total. Nyerinya bisa berupa rasa terbakar, seperti tersetrum listrik, atau sangat peka terhadap sentuhan ringan (misalnya terkena gesekan baju).
Sebuah survei berbasis pasien yang dilakukan oleh Weinke dkk. (2010) menemukan bahwa PHN secara signifikan menurunkan kualitas hidup penderitanya. Banyak pasien mengalami gangguan tidur, sulit berkonsentrasi, bahkan depresi karena nyeri yang terus-menerus [4]. Risiko PHN meningkat tajam pada usia di atas 50 tahun. Komplikasi lain yang lebih jarang tetapi serius meliputi:
- Infeksi bakteri pada kulit yang melepuh.
- Gangguan penglihatan jika cacar api menyerang area mata (herpes zoster oftalmikus).
- Gangguan pendengaran atau keseimbangan jika menyerang telinga.
Cacar api bisa diobati, tetapi ada batas waktu yang penting. Obat antivirus (seperti asiklovir, valasiklovir) paling efektif jika diberikan dalam 72 jam pertama sejak ruam muncul. Obat ini membantu mempercepat penyembuhan ruam, mengurangi keparahan nyeri, dan menekan risiko PHN. Selain obat antivirus, dokter juga akan memberikan:
- Obat pereda nyeri (dari parasetamol hingga obat khusus nyeri saraf seperti gabapentin) [5].
- Krim atau kompres dingin untuk meredakan ketidaknyamanan lokal.
Kabar Baik: Cacar Api Dapat Dicegah dengan Vaksin
Anda tidak perlu menunggu hingga terkena cacar api untuk bertindak. Sejak tahun 2006, vaksin herpes zoster (Zostavax) dan kemudian vaksin rekombinan (Shingrix) telah tersedia. Rekomendasi terbaru dari CDC (Hales dkk., 2014) dan ACIP menyatakan bahwa vaksin herpes zoster sangat dianjurkan untuk dewasa usia 60 tahun ke atas, bahkan untuk mereka yang sudah pernah terkena cacar api sebelumnya [3]. Vaksin ini bekerja dengan cara “mengingatkan” sistem kekebalan tentang virus yang tidur di saraf, sehingga ia tetap waspada dan mencegah virus untuk bangkit kembali. Efektivitas vaksin dalam mencegah cacar api dan PHN sangat tinggi, mencapai lebih dari 90% untuk vaksin rekombinan.
Kesimpulan
Cacar api bukanlah penyakit yang bisa dianggap sepele. Lebih dari sekadar ruam kulit, ia adalah “cermin” dari penurunan daya tahan tubuh seiring usia. Rasa nyerinya bisa sangat mengganggu, dan komplikasi nyeri saraf berkepanjangan (PHN) dapat menurunkan kualitas hidup secara drastis. Kabar baiknya, kita tidak lagi hanya mengandalkan pengobatan setelah sakit. Vaksinasi pada usia lanjut adalah strategi paling ampuh untuk mencegah virus cacar air yang “tidur” di dalam tubuh kita agar tidak pernah terbangun lagi. Jika Anda atau orangtua Anda berusia di atas 50 tahun dan pernah menderita cacar air di masa kecil, jangan ragu untuk berkonsultasi dengan dokter mengenai vaksin cacar api. Lebih baik mencegah daripada merasakan nyeri yang berkepanjangan.
Penulis :
dr. Faradiesa Addiena, Sp.PD

Daftar Pustaka:
- Harpaz R, Ortega-Sanchez IR, Seward JF. Prevention of herpes zoster: recommendations of the Advisory Committee on Immunization Practices (ACIP). MMWR Recomm Rep. 2008;57(RR-5):1–30.
- Bollaerts K, Riera-Montes M, Heininger U, et al. A systematic review of varicella seroprevalence in European countries before universal childhood immunization: deriving incidence from seroprevalence data. Epidemiol Infect. 2017;145:2666–2677.
- Hales CM, Harpaz R, Ortega-Sanchez I, Bialek SR. Update on recommendations for use of herpes zoster vaccine. MMWR Morb Mortal Wkly Rep. 2014;63(33):729–731.
- Weinke T, Edte A, Schmitt S, Lukas K. Impact of herpes zoster and post-herpetic neuralgia on patients’ quality of life: a patient-reported outcomes survey. Z Gesundh Wiss. 2010;18:367–374.
- Dworkin RH, Johnson RW, Breuer J, et al. Recommendations for the management of herpes zoster. Clin Infect Dis. 2007;44 Suppl 1:S1-26.
