Rinitis Alergi: Reaksi Alergi Berlebihan pada Hidung

You are currently viewing Rinitis Alergi: Reaksi Alergi Berlebihan pada Hidung

Pernahkah Anda bersin berulang saat membersihkan rumah, hidung terus-menerus meler ketika cuaca dingin, atau mata terasa gatal setiap kali berada di dekat kucing? Bagi sebagian orang, keluhan-keluhan tersebut bukan sekadar pilek biasa, melainkan tanda rinitis alergi, salah satu penyakit alergi kronis yang paling sering dijumpai di dunia. Meski tampak ringan, rinitis alergi dapat mengganggu aktivitas sehari-hari, menurunkan kualitas tidur, mengurangi produktivitas, dan berdampak pada kualitas hidup bila tidak ditangani dengan baik.1-2

Rinitis alergi adalah peradangan pada lapisan dalam hidung yang terjadi akibat reaksi berlebihan sistem kekebalan tubuh terhadap zat-zat yang sebenarnya tidak berbahaya, seperti debu rumah, tungau, serbuk sari, bulu hewan, atau jamur. Kondisi ini ditandai dengan hidung tersumbat, hidung berair dengan lendir bening, bersin berulang, rasa gatal pada hidung, serta lendir yang mengalir ke belakang tenggorokan (postnasal drip). Penyakit ini diperkirakan dialami oleh sekitar satu dari enam orang dan merupakan salah satu penyebab tersering keluhan hidung kronis.1-2

Dahulu, rinitis alergi dianggap hanya menyerang hidung. Namun, pemahaman saat ini menunjukkan bahwa saluran napas merupakan satu kesatuan (united airway disease), sehingga rinitis alergi sering berkaitan dengan penyakit alergi lain seperti asma dan dermatitis atopik. Berdasarkan pola munculnya gejala, rinitis alergi dibedakan menjadi rinitis alergi intermiten atau musiman, yaitu gejala yang muncul pada waktu-waktu tertentu, serta rinitis alergi persisten yang gejalanya berlangsung hampir sepanjang tahun. Selain keluhan pada hidung, sebagian penderita juga mengalami mata merah dan berair akibat konjungtivitis alergi, batuk kering, atau rasa penuh pada telinga.2-3

Rinitis alergi merupakan salah satu penyakit alergi yang paling banyak ditemukan di seluruh dunia. Diperkirakan lebih dari 400 juta orang mengalaminya, dan jumlah penderitanya terus meningkat dari tahun ke tahun. Berdasarkan diagnosis dokter, prevalensinya mencapai sekitar 15%, tetapi jika memperhitungkan orang yang mengalami gejala tanpa pernah memeriksakan diri, angkanya diperkirakan dapat mencapai 30%. Penyakit ini paling sering ditemukan pada usia remaja hingga dewasa muda sebelum kemudian cenderung berkurang seiring bertambahnya usia.1-3

Dampak rinitis alergi tidak hanya dirasakan oleh penderitanya secara fisik, tetapi juga secara sosial dan ekonomi. Gejala yang berlangsung terus-menerus dapat mengganggu tidur, menyebabkan rasa lelah pada siang hari, menurunkan konsentrasi, serta mengurangi performa belajar maupun bekerja. Berbagai penelitian juga menunjukkan bahwa sebagian penderita harus absen dari pekerjaan, sementara lebih banyak lagi mengalami penurunan produktivitas akibat gejala yang menetap.1-2

Risiko seseorang mengalami rinitis alergi dipengaruhi oleh berbagai faktor. Riwayat keluarga dengan penyakit alergi merupakan salah satu faktor risiko terkuat, disertai adanya sensitisasi terhadap alergen tertentu, dan kadar imunoglobulin E (IgE) yang tinggi sejak usia dini.

Rinitis alergi terjadi ketika sistem kekebalan tubuh keliru mengenali alergen sebagai ancaman. Saat alergen masuk ke dalam hidung, tubuh menghasilkan antibodi imunoglobulin E (IgE) yang kemudian memicu aktivasi sel mast. Dalam hitungan menit, sel-sel tersebut melepaskan berbagai zat kimia, terutama histamin, yang menyebabkan bersin, rasa gatal pada hidung, dan peningkatan produksi lendir sehingga hidung menjadi berair. Pada saat yang sama, mediator lain seperti leukotrien dan prostaglandin menyebabkan pembuluh darah di hidung melebar sehingga timbul pembengkakan dan hidung terasa tersumbat.2-4

Beberapa jam kemudian, tubuh memasuki fase peradangan lanjutan. Berbagai sel imun, terutama eosinofil, berkumpul di mukosa hidung dan memperpanjang proses inflamasi sehingga sumbatan hidung menjadi semakin berat. Akibat peradangan yang berlangsung terus-menerus, mukosa hidung menjadi sangat sensitif. Kondisi ini membuat rangsangan yang sebenarnya tidak berbahaya, seperti udara dingin, asap rokok, parfum, atau perubahan suhu, dapat dengan mudah memicu bersin, hidung berair, maupun rasa gatal.3-4

Gejala rinitis alergi dapat berbeda pada setiap orang. Pada rinitis alergi musiman, keluhan yang paling sering muncul adalah bersin berulang, hidung berair, serta mata gatal dan berair. Sementara itu, pada rinitis alergi yang berlangsung sepanjang tahun, penderita lebih sering mengeluhkan hidung tersumbat kronis, lendir yang mengalir ke tenggorokan, dan kesulitan bernapas melalui hidung. Sebagian pasien juga dapat mengenali pemicu gejalanya, misalnya ketika membersihkan rumah, berada di dekat hewan peliharaan, menghirup parfum tertentu, atau terpapar asap rokok.3-4

Saat pemeriksaan fisik, dokter dapat menemukan beberapa tanda khas, seperti kebiasaan bernapas melalui mulut, sering mengendus atau berdeham, adanya lipatan melintang pada batang hidung akibat kebiasaan mengusap hidung (allergic salute), serta lingkaran kehitaman di bawah mata (allergic shiners). Pemeriksaan bagian dalam hidung biasanya menunjukkan mukosa yang membengkak, tampak pucat atau kebiruan, disertai lendir bening.1-2

Pada sebagian besar kasus, diagnosis rinitis alergi dapat ditegakkan melalui riwayat gejala yang khas dan pemeriksaan fisik. Bila diperlukan, dokter dapat melakukan pemeriksaan penunjang berupa uji tusuk kulit (skin prick test) atau pemeriksaan darah untuk mendeteksi IgE spesifik terhadap alergen tertentu. Respons yang baik terhadap pengobatan juga dapat membantu memperkuat diagnosis.1-3

Penanganan rinitis alergi bertujuan mengurangi gejala sekaligus mengendalikan peradangan pada mukosa hidung. Terapi yang tersedia meliputi antihistamin, kortikosteroid intranasal, antagonis reseptor leukotrien, serta imunoterapi alergen. Di antara berbagai pilihan tersebut, kortikosteroid intranasal merupakan terapi lini pertama pada rinitis alergi yang tergolong persisten sedang-berat. Obat ini dapat digunakan sendiri maupun dikombinasikan dengan antihistamin sesuai tingkat keparahan gejala.1-2

Antihistamin generasi kedua umumnya lebih disukai karena bekerja lebih selektif dan jarang menyebabkan kantuk dibandingkan antihistamin generasi pertama. Sebaliknya, antihistamin generasi pertama lebih mudah menembus otak sehingga dapat menimbulkan efek samping berupa kantuk, mulut kering, konstipasi, retensi urine, hingga jantung berdebar.

Pada pasien yang tidak membaik dengan pengobatan rutin, dokter dapat mempertimbangkan imunoterapi alergen melalui pemberian obat imunoterapi. Terapi ini dilakukan secara bertahap selama beberapa tahun untuk melatih sistem kekebalan tubuh menjadi lebih toleran terhadap alergen sehingga efek perlindungannya dapat bertahan lama.1-3

Penelitian jangka panjang menunjukkan bahwa lebih dari separuh penderita mengalami perbaikan gejala, bahkan sebagian kasus menjadi bebas gejala setelah bertahun-tahun. Meskipun demikian, rinitis alergi tidak boleh dianggap sebagai penyakit ringan. Sekitar 10–40% penderita juga mengalami asma, dan berbagai penelitian menunjukkan bahwa rinitis alergi merupakan faktor risiko independen terjadinya penyakit tersebut, terutama bila gejalanya persisten dan tidak terkontrol. Oleh karena itu, mengenali gejala sejak dini, menghindari faktor pencetus, dan menjalani pengobatan yang tepat merupakan langkah penting untuk mencegah komplikasi sekaligus menjaga kualitas hidup.1-4

Rinitis alergi bukan sekadar “pilek yang sering kambuh”. Kondisi ini merupakan penyakit alergi kronis yang dapat memengaruhi kualitas tidur, konsentrasi, produktivitas, hingga kesehatan saluran napas secara keseluruhan. Dengan diagnosis yang tepat dan terapi yang sesuai, sebagian besar penderita dapat mengendalikan gejalanya dengan baik dan tetap menjalani aktivitas sehari-hari secara optimal.1-4

Penulis

Referensi

  1. Husna SMN, Tan HTT, Shukri NM, Ashari NSM, Wong KK. Allergic rhinitis: A clinical and pathophysiological overview. Front Med (Lausanne). 2022 Apr 7;9:874114.
  2. Bernstein JA, Bernstein JS, Makol R, Ward S. Allergic rhinitis: A review. JAMA. 2024 Mar 12;331(10):866-877.
  3. Sharma K, Akre S, Chakole S, Wanjari MB. Allergic rhinitis and treatment modalities: A review of literature. Cureus. 2022 Aug 28;14(8):e28501
  4. Rosenfield L, Keith PK, Quirt J, Small P, Ellis AK. Allergic rhinitis. Allergy Asthma Clin Immunol. 2024 Dec 27;20(Suppl 3):74.