Alergi Antibiotik Beta-Laktam: Apakah berbahaya?

You are currently viewing Alergi Antibiotik Beta-Laktam: Apakah berbahaya?

Alergi terhadap antibiotik beta-laktam merupakan salah satu jenis alergi obat yang paling sering ditemukan. Beta-laktam adalah kelompok antibiotik yang umum digunakan untuk mengobati berbagai infeksi, seperti infeksi saluran pernapasan, kulit, dan saluran kemih. Contoh antibiotik dalam kelompok ini antara lain penisilin, amoksisilin, ampisilin, dan sefalosporin [1]. Namun pada sebagian kecil individu, sistem kekebalan tubuh dapat bereaksi berlebihan terhadap obat ini dan menimbulkan gejala alergi. Sekitar 10% populasi dilaporkan memiliki riwayat alergi terhadap penisilin, tetapi berbagai penelitian menunjukkan bahwa lebih dari 90% di antaranya tidak menunjukkan reaksi alergi ketika diuji ulang. Hal ini dapat terjadi karena reaksi sebelumnya bukan disebabkan oleh mekanisme imun, atau antibodi penyebab alergi telah menghilang seiring waktu. Diagnosis “alergi penisilin” yang tidak akurat dapat berdampak pada penggunaan antibiotik alternatif yang lebih mahal, kurang efektif, dan berpotensi meningkatkan risiko resistansi bakteri [2-4].

Secara imunologis, alergi β-laktam biasanya disebabkan oleh mekanisme hipersensitivitas tipe I yang diperantarai oleh antibodi imunoglobulin E (IgE). Ketika seseorang pertama kali terpapar antibiotik β-laktam, tubuhnya dapat membentuk antibodi IgE yang mengenali obat tersebut sebagai zat asing. Pada paparan berikutnya, antibodi ini akan memicu pelepasan histamin dan mediator lain dari sel mast, menyebabkan gatal, bentol, ruam, pembengkakan wajah, atau bahkan reaksi berat seperti sesak napas dan penurunan tekanan darah. Selain reaksi cepat tersebut, ada pula reaksi lambat yang tidak melibatkan IgE, seperti ruam makulopapular, demam obat, atau reaksi kulit berat seperti sindrom Stevens–Johnson, meski kasus berat ini sangat jarang terjadi [1,5].

Penyebab alergi antibiotik beta-laktam tidak sepenuhnya diketahui, tetapi ada beberapa faktor yang dapat meningkatkan risikonya. Faktor genetik berperan penting, di mana seseorang dengan riwayat keluarga alergi obat lebih mudah mengalami hal serupa. Riwayat alergi lain seperti asma, rhinitis alergi, atau eksim juga dapat meningkatkan risiko. Selain itu, penggunaan antibiotik yang berulang, terutama tanpa pengawasan dokter, bisa memperbesar kemungkinan munculnya reaksi alergi [6].

Gejala alergi β-laktam dapat bervariasi, dari ringan hingga mengancam nyawa. Reaksi ringan umumnya berupa gatal, bentol, atau ruam kulit yang hilang sendiri. Reaksi sedang bisa berupa pembengkakan pada wajah, bibir, atau kelopak mata. Reaksi berat yang disebut anafilaksis ditandai dengan sesak napas, suara napas mengi, pusing, penurunan tekanan darah, hingga pingsan. Kondisi ini merupakan keadaan gawat darurat yang memerlukan penanganan segera dengan pemberian epinefrin dan perawatan intensif [7].

Diagnosis alergi beta-laktam memerlukan pemeriksaan yang cermat. Dokter akan melakukan wawancara mendetail untuk mengetahui jenis, waktu, dan beratnya reaksi, lalu menentukan apakah pasien memerlukan pemeriksaan lebih lanjut. Pemeriksaan alergi dapat berupa tes kulit (skin test) untuk mendeteksi antibodi IgE spesifik terhadap penisilin, atau uji tantang obat (drug provocation test) dengan memberikan antibiotik dalam dosis kecil secara bertahap di bawah pengawasan medis. Uji tantang ini merupakan baku emas untuk memastikan apakah seseorang benar-benar alergi. Studi terkini menunjukkan bahwa pasien dengan risiko rendah, seperti mereka yang hanya memiliki riwayat ruam ringan lebih dari 10 tahun lalu, dapat menjalani tantang langsung tanpa tes kulit terlebih dahulu dengan tingkat keamanan yang sangat baik [1,7].

Penanganan utama alergi antibiotik adalah menghentikan pemakaian obat yang dicurigai dan menggantinya dengan antibiotik dari golongan lain yang lebih aman. Dokter dapat memberikan antihistamin atau kortikosteroid untuk meredakan gejala. Pada reaksi berat seperti anafilaksis, epinefrin (adrenalin) harus segera diberikan. Bagi pasien yang benar-benar membutuhkan antibiotik beta-laktam namun mengalami alergi, dokter dapat melakukan prosedur desensitisasi, yaitu memberikan dosis kecil antibiotik secara bertahap agar tubuh dapat menoleransinya tanpa reaksi berat. Terapi ini harus dilakukan dalam pengawasan dokter spesialis [1,2].

Prognosis alergi antibiotik beta-laktam umumnya baik bila segera dikenali dan dihindari. Kabar baiknya, alergi β-laktam sering kali dapat “hilang” seiring waktu. Antibodi penyebab alergi biasanya menurun dalam 5–10 tahun, sehingga banyak pasien yang dulunya alergi dapat kembali toleran di masa dewasa. Selain itu, seperti yang telah dijelaskan sebelumnya, penelitian menunjukkan bahwa sekitar 80–90% orang yang mengaku alergi penisilin sebenarnya tidak benar-benar alergi setelah diuji secara medis, karena gejala yang muncul mungkin disebabkan oleh efek samping obat, bukan reaksi imunologis. Oleh karena itu, penting untuk tidak langsung menganggap diri alergi hanya berdasarkan keluhan tertentu setelah mengonsumsi antibiotik. Segera periksakan diri Anda ke dokter jika mengalami gejala-gejala di atas agar mendapatkan penanganan yang tepat [8].

Penulis:

Daftar Pustaka:

  1. Blumenthal KG, Peter JG, Trubiano JA, Phillips EJ. Antibiotic allergy. Lancet. 2019;393(10167):183–98. doi:10.1016/S0140-6736(18)32218-9
  2. Iuliano S, Senn L, Moi L, et al. Management of Beta-Lactam Antibiotics Allergy: A Real-Life Study. Front Allergy. 2022;3:853587.
  3. Blumenthal KG, Lu N, Zhang Y, Li Y, Walensky RP, Choi HK. Risk of meticillin resistant Staphylococcus aureus and Clostridium difficile in patients with a documented penicillin allergy: population-based matched cohort study. BMJ. 2018;361:k2400.
  4. Powell N, Honeyford K, Sandoe J. Impact of penicillin allergy records on antibiotic costs and length of hospital stay: a single-centre observational retrospective cohort. J Hosp Infect. 2020;106(1):35-42. doi:10.1016/j.jhin.2020.05.042
  5. Trubiano JA, Vogrin S, Chua KYL, et al. Development and validation of a penicillin allergy clinical decision rule. JAMA Intern Med. 2020;180(5):745–52. doi:10.1001/jamainternmed.2020.0403
  6. Mirakian R, Leech SC, Krishna MT, et al. Management of allergy to penicillins and other beta-lactams. Clin Exp Allergy. 2015;45(2):300-327. doi:10.1111/cea.12468
  7. Khan DA, Solensky R. Drug allergy. J Allergy Clin Immunol. 2010;125(2 Suppl 2):S126-S137. doi:10.1016/j.jaci.2009.10.028
  8. Patterson RA, Stankewicz HA. Penicillin Allergy. In: StatPearls [Internet]. Treasure Island (FL): StatPearls Publishing; 2025 Jan-. Available from: https://www.ncbi.nlm.nih.gov/books/NBK459320/