Dermatomyositis adalah penyakit yang termasuk dalam kelompok penyakit autoimun, yakni kondisi ketika sistem kekebalan tubuh menyerang jaringan tubuh sendiri. Pada dermatomyositis, organ yang terdampak adalah jaringan otot dan kulit. Penyakit ini bisa terjadi pada anak-anak maupun orang dewasa, dengan gejala yang sering kali berkembang perlahan. Karena gejalanya bisa mirip dengan penyakit lain, dermatomyositis kerap terlambat didiagnosis. (1)
Mengapa Kondisi Ini Bisa Terjadi?
Penyebab pasti dermatomyositis belum diketahui. Namun, penelitian menunjukkan bahwa penyakit ini melibatkan beberapa faktor, antara lain:
- Autoimun: sistem imun menyerang pembuluh darah kecil di otot dan kulit
- Genetik: adanya predisposisi genetik tertentu
- Lingkungan: infeksi virus atau paparan tertentu dapat memicu penyakit.
Pada kondisi normal, sistem imun melawan infeksi seperti virus dan bakteri. Namun pada dermatomyositis, sistem imun menjadi “keliru” dan menyerang otot dan kulit. Reaksi imun ini menyebabkan timbulnya inflamasi pada pembuluh darah otot, yang kemudian menimbulkan jejas dan kerusakan pada serat otot. Hal ini menyebabkan kelemahan pada otot. (2)
Tanda dan Gejala Dermatomyositis
- Kelemahan otot
Kelemahan otot biasanya terjadi secara simetris (menyerang sisi kiri dan kanan), dan terutama mengenai otot proksimal, yakni otot-otot dekat pusat tubuh seperti bahu, paha, dan leher. Pasien mungkin mengalami kesulitan bangkit dari posisi duduk, naik tangga, dan mengangkat benda karena lengan terasa lemah. Kelemahan ini biasanya terasa semakin memburuk seiring waktu jika tidak ditangani. (3-4)
- Ruam kulit khas
Ruam pada dermatomyositis memiliki warna kemerahan hingga ungu kebiruan, dan sering muncul di kelopak mata (heliotrope rash), buku jari (Gottron’s papules), dada dan punggung (shawl sign). Ruam ini bisa terasa gatal atau nyeri, dan sering menjadi tanda pertama sebelum kelemahan otot muncul.(4)
- Gejala lain
Selain dua gejala utama, pasien juga dapat mengalami mudah lelah, nyeri otot, sulit menelan pada kasus berat dan sesak napas jika terdapat keterlibatan paru-paru.
Diagnosis Dermatomyositis
Diagnosis dermatomyositis dilakukan melalui berbagai pemeriksaan. Pemeriksaan awal yang dapat dilakukan adalah pemeriksaan darah untuk melihat kadar enzim otot. Pada dermatomyositis, umumnya ditemukan peningkatan kadar enzim creatine kinase (CK).Selain itu, pemeriksaan autoantibodi juga dapat dilakukan, dan sering kali menunjukkan hasil antinuclear antibody (ANA) yang positif sebagai indikasi proses autoimun. Untuk menilai aktivitas listrik otot, dapat dilakukan pemeriksaan elektromiografi (EMG), yang membantu mengidentifikasi adanya gangguan pada otot. Pemeriksaan radiologi, seperti MRI, juga bermanfaat untuk melihat area peradangan pada otot secara lebih detail. Sebagai konfirmasi diagnosis, dokter dapat melakukan biopsi otot atau kulit, yang akan menunjukkan gambaran khas peradangan dan perubahan jaringan pada dermatomyositis. (1-3)
Pengobatan Dermatomyositis
Pengobatan dermatomyositis bertujuan untuk mengurangi peradangan serta mencegah kerusakan jaringan yang lebih lanjut. Terapi utama meliputi pemberian obat-obatan, seperti kortikosteroid (misalnya prednisone) untuk menekan peradangan, serta obat imunosupresif seperti methotrexate dan azathioprine yang digunakan untuk mengendalikan respons sistem imun. Pada beberapa kasus tertentu, terapi biologik juga dapat dipertimbangkan. Selain pengobatan utama, terapi pendukung memegang peranan penting, seperti latihan fisik dan rehabilitasi untuk menjaga kekuatan otot, perlindungan kulit dari paparan sinar matahari dengan penggunaan tabir surya, serta pemenuhan nutrisi yang cukup terutama protein.
Komplikasi yang Mungkin Terjadi
Jika tidak ditangani dengan baik, dermatomyositis dapat menimbulkan berbagai komplikasi, antara lain kelemahan otot yang berat, gangguan menelan, serta penyakit paru seperti interstitial lung disease. Pada pasien dewasa, kondisi ini juga dikaitkan dengan peningkatan risiko keganasan atau kanker tertentu. Dermatomyositis merupakan penyakit kronis, namun dengan penanganan yang tepat, banyak pasien dapat mencapai kondisi remisi dan mengontrol gejala melalui terapi jangka panjang. Oleh karena itu, deteksi dini dan kepatuhan terhadap pengobatan menjadi kunci utama dalam pengelolaan dermatomyositis.
Apakah Dapat Sembuh?
Dermatomyositis merupakan penyakit kronis, namun dengan penanganan yang tepat, banyak pasien dapat mencapai kondisi remisi. Gejala yang muncul juga umumnya dapat dikontrol melalui terapi jangka panjang yang konsisten. Oleh karena itu, deteksi dini serta kepatuhan terhadap pengobatan menjadi kunci utama dalam pengelolaan dermatomyositis agar kualitas hidup pasien tetap terjaga.
Penulis:

Referensi:
- Cassard L, Seraly N, et al. Dermatomyositis: Practical guidance and unmet needs. Immunotargets Ther. 2024 Mar 6;13:151–172. doi: 10.2147/ITT.S381472.
- Parga A, Ratra D, Luu D. An update on dermatomyositis and related inflammatory myopathoes: Cutaneous clues, skeletal muscle involvement, and advances in pathogenesis and treatment. Muscles. 2025 Dec 1;4(4):58. doi: 10.3390/muscles4040058
- Qudsiya Z, Waseem M. Dermatomyositis. In: StatPearls [Internet]. Treasure Island (FL): StatPearls Publishing; 2026 Jan. 2023 Aug 7.
- DeWane ME, Waldman R, Lu J. Dermatomyositis: Clinical features and pathogenesis. J Am Acad Dermatol. 2020 Feb;82(2):267-281. doi: 10.1016/j.jaad.2019.06.1309. Epub 2019 Jul 4.
