Vaksin Pneumonia pada Lansia

You are currently viewing Vaksin Pneumonia pada Lansia

Vaksin Pneumonia pada Lansia: Perlindungan Penting untuk Mencegah Infeksi Paru yang Berat

Pneumonia adalah infeksi pada paru-paru yang menyebabkan kondisi peradangan pada alveoli, yakni kantung udara kecil pada paru-paru tempat terjadinya pertukaran oksigen. Dalam kondisi normal, alveoli berisi udara sehingga oksigen dapat masuk ke dalam darah secara optimal. Namun pada pneumonia, alveoli dapat terisi cairan, lendir, atau nanah akibat proses infeksi, sehingga fungsi pertukaran oksigen terganggu. Kondisi ini menyebabkan penderita mengalami gangguan pernapasan, mulai dari sesak ringan hingga gagal napas pada kasus berat. Hingga saat ini, pneumonia masih menjadi salah satu penyebab utama rawat inap dan kematian akibat penyakit infeksi di seluruh dunia, terutama pada kelompok usia lanjut.(1)

Pneumonia dapat disebabkan oleh berbagai mikroorganisme, dengan bakteri sebagai penyebab tersering. Bakteri yang paling sering menyebabkan pneumonia adalah Streptococcus pneumoniae atau pneumokokus. Bakteri ini dapat berada di saluran pernapasan atas tanpa menimbulkan gejala, tetapi ketika daya tahan tubuh menurun, bakteri dapat masuk ke paru-paru dan menyebabkan infeksi. Selain pneumokokus, bakteri lain seperti Haemophilus influenzae, Klebsiella pneumoniae, dan Staphylococcus aureus juga dapat menyebabkan pneumonia. Selain bakteri, virus juga merupakan penyebab penting pneumonia, terutama virus influenza, virus pernapasan seperti RSV, dan SARS-CoV-2 penyebab COVID-19. Pada kondisi tertentu, terutama pada individu dengan sistem imun yang sangat lemah, pneumonia juga dapat disebabkan oleh jamur.(1-2)

Proses terjadinya pneumonia dimulai ketika kuman patogen masuk ke saluran pernapasan melalui udara yang terhirup. Pada orang sehat, tubuh memiliki berbagai mekanisme pertahanan seperti lendir saluran napas, silia, dan sel-sel imun yang berfungsi menangkap dan mengeluarkan kuman. Namun, ketika sistem pertahanan ini melemah, kuman dapat mencapai paru-paru dan berkembang biak. Tubuh kemudian merespons dengan peradangan, yang menyebabkan penumpukan cairan dan sel inflamasi di alveoli. Kondisi peradangan inilah yang menimbulkan gejala pada pneumonia.(2)

Gejala pneumonia pada umumnya meliputi batuk, yang dapat berupa batuk kering atau batuk berdahak. Dahak yang dihasilkan dapat berwarna putih, kuning, hijau, atau bahkan bercampur darah. Selain itu, pasien sering mengalami demam, menggigil, sesak napas, nyeri dada yang memburuk saat bernapas atau batuk, serta rasa lemas yang cukup berat. Namun, pada lansia, gejala pneumonia sering tidak khas. Lansia sering tidak menunjukkan demam tinggi atau batuk. Sebaliknya, gejala dapat berupa penurunan kesadaran, kebingungan (delirium), penurunan nafsu makan, kelemahan mendadak, penurunan aktivitas sehari-hari, atau bahkan jatuh tanpa sebab yang jelas. Hal ini membuat pneumonia pada lansia sering terlambat dikenali dan didiagnosis.(2)

Lansia lebih rentan untuk terkena pneumonia. Hal ini disebabkan oleh penurunan fungsi sistem kekebalan tubuh seiring bertambahnya usia, yang dikenal sebagai immunosenescence. Kondisi ini menyebabkan tubuh lebih lambat dan kurang efektif dalam melawan infeksi. Selain itu, lansia juga sering memiliki penyakit penyerta seperti diabetes, penyakit jantung, penyakit paru obstruktif kronik (PPOK), dan gagal ginjal yang dapat meningkatkan kerentanan terhadap infeksi serta memperburuk perjalanan penyakit. Pada lansia, elastisitas paru berkurang seiring usia. Refleks batuk juga melemah, sehingga lendir dan bakteri lebih mudah menumpuk di paru-paru Pada sebagian lansia, risiko pneumonia juga meningkat akibat aspirasi, yaitu masuknya makanan atau cairan ke dalam saluran napas, terutama pada mereka dengan gangguan menelan atau riwayat stroke. Selain itu, lansia yang tinggal di fasilitas perawatan jangka panjang memiliki risiko lebih tinggi karena paparan kuman yang lebih sering dan kondisi kesehatan yang umumnya lebih rentan.(1)

Dampak pneumonia pada lansia dapat sangat serius. Selain menyebabkan infeksi paru, pneumonia dapat memperburuk kondisi penyakit kronis yang sudah ada, meningkatkan risiko rawat inap yang berkepanjangan, serta menyebabkan penurunan fungsi fisik setelah sakit. Pada kasus yang berat, pneumonia dapat berkembang menjadi komplikasi seperti sepsis, yaitu infeksi yang menyebar ke aliran darah, atau gagal napas yang mengancam jiwa. Angka kematian akibat pneumonia meningkat signifikan pada kelompok usia lanjut, terutama pada mereka yang memiliki penyakit penyerta.(1)

Salah satu upaya pencegahan pneumonia pada populasi lansia adalah dengan pemberian vaksin pneumonia. Vaksin PCV (Pneumococcal Conjugate Vaccine) adalah vaksin yang digunakan untuk mencegah infeksi bakteri Streptococcus pneumoniae (pneumokokus), yaitu bakteri penyebab utama pneumonia, meningitis, hingga sepsis. Vaksin ini bekerja dengan cara menggabungkan (konjugasi) bagian kapsul bakteri (polisakarida) dengan protein pembawa, sehingga sistem imun dapat mengenali bakteri lebih baik dan membentuk “memori imun” untuk melawan bakteri. Vaksin PCV yang tersedia di Indonesia antara lain Pneumokokal Konjugat 13-valen (PCV13),  Pneumokokal Konjugat 15-valen (PCV15), dan Pneumokokal Konjugat 20-valen (PCV20). Perbedaan jenis vaksin PCV ini terletak pada jumlah serotipe bakteri pneumokokal yang dikandung dalam vaksin.(3-4)

Selain vaksin PCV, salah satu vaksin untuk mencegah pneumonia adalah vaksin PPSV23 (Pneumococcal Polysaccharide Vaccine 23-valent) yang melindungi terhadap 23 serotipe Streptococcus pneumoniae. Berbeda dengan vaksin PCV (pneumococcal conjugate vaccine), PPSV23 tidak menggunakan protein carrier. Ia hanya berisi polisakarida (kapsul bakteri). Oleh karena itu, respons imun yang dihasilkan tidak mengaktifkan sel T, sehingga hanya merangsang produksi antibodi sementara.(3-4)

Untuk perlindungan terhadap pneumonia pada lansia, vaksin pneumokokus direkomendasikan sesuai riwayat vaksinasi sebelumnya berdasarkan rekomendasi Jadwal Imunisasi Dewasa oleh SATGAS PAPDI. Pada lansia yang belum pernah mendapatkan vaksin pneumonia, dianjurkan pemberian vaksin PCV13 atau PCV15, yang kemudian dapat dilanjutkan dengan PPSV23 dengan jarak minimal 8 minggu setelah PCV. Jika sebelumnya sudah pernah mendapatkan PPSV23, maka PCV13 atau PCV15 dapat diberikan dengan jeda minimal 1 tahun setelah vaksin PPSV23. Pada penggunaan vaksin generasi terbaru seperti PCV20, tidak diperlukan lagi pemberian PPSV23 karena cakupan perlindungannya sudah lebih luas. Sementara itu, PPSV23 sendiri dapat diberikan pada semua individu usia 50 tahun ke atas dan sangat dianjurkan pada kelompok dengan daya tahan tubuh rendah (imunokompromi), karena vaksin ini mencakup lebih banyak serotipe pneumokokus yang mungkin tidak tercakup oleh PCV13 atau PCV15, sehingga memberikan perlindungan tambahan terhadap infeksi pneumokokus pada kelompok berisiko tinggi seperti lansia.(3)

Secara keseluruhan, pneumonia adalah infeksi paru serius yang dapat disebabkan oleh bakteri, virus, maupun jamur. Pada lansia, penyakit ini menjadi lebih berbahaya karena penurunan daya tahan tubuh, adanya penyakit kronis, dan perubahan fungsi paru.Gejala pneumonia pada lansia sering tidak khas, seperti kebingungan, kelemahan mendadak, atau penurunan aktivitas, sehingga sering terlambat dikenali. Kondisi ini meningkatkan risiko komplikasi berat seperti gagal napas, sepsis, dan kematian. Oleh karena itu, pencegahan pneumonia pada lansia melalui vaksinasi menjadi sangat penting.(1-4)

Penulis:

Referensi:

  1. Osman M, Manosuthi W, Kaewkungwal J, Silachamroon U, Mansanguan C, Kamolratanakul S, et al. Etiology, clinical course, and outcomes of pneumonia in the elderly: a retrospective and prospective cohort study in Thailand. Am J Trop Med Hyg. 2021;104(6):2009–2016.
  2. Bulkhi A, Khadawardi HA, Dairi MS, Alwafi H, Alim HM, Turkistani YA, et al. Effectiveness of pneumococcal vaccination in reducing hospitalization and mortality among the elderly: a systematic review and meta-analysis. Hum Vaccin Immunother. 2025;21(1):2561315.
  3. Satgas Imunisasi Dewasa PAPDI. Jadwal imunisasi dewasa. Jakarta: 2025.
  4. Carrico J, McGuiness C, Yasuda M, Chen CC, Stempniewicz N, Gatwood J. Herpes zoster vaccination among immunocompromised adults in the United States. Vaccine. 2026;72:128124. Epub 2025 Dec 17.