Neuropsychiatric systemic lupus erythematosus (NPSLE) merupakan kondisi ketika sistem imun yang seharusnya melindungi tubuh justru menjadi terlalu aktif dan menyerang otak, saraf, atau fungsi kejiwaan seseorang [1]. Lupus sendiri adalah penyakit autoimun, di mana tubuh keliru mengenali jaringan sehat sebagai ancaman. Walaupun lupus lebih dikenal menyerang kulit, ginjal, atau persendian, sebagian pasien dapat mengalami dampak pada sistem saraf akibat serangan imun ini. Hasilnya adalah rentang gejala yang sangat luas, mulai dari sakit kepala, sulit konsentrasi, perubahan mood, gangguan memori, hingga kejang, stroke, atau psikosis [1,2].
Mekanisme imun yang berperan dalam NPSLE dapat melibatkan autoantibodi seperti anti-dsDNA atau antibodi antiphospholipid yang menempel pada sel otak atau pembuluh darah kecil sehingga memicu peradangan atau pembekuan darah mikro. Peradangan juga diperburuk oleh sitokin seperti interferon-α yang mengganggu komunikasi antarsel saraf dan memengaruhi fungsi kognitif maupun emosi. Selain itu, pada beberapa pasien lupus aktif, penghalang darah–otak mengalami kerusakan sehingga bagian-bagian otak yang sebelumnya terlindungi kini rentan terhadap sel imun dan proses peradangan [3,4].
Risiko terjadinya NPSLE meningkat bila lupus sedang aktif atau belum terkontrol, onset SLE usia muda, bila ditemukan antibodi spesifik seperti antiphospholipid, atau bila pasien memiliki riwayat keluhan neuropsikiatri sebelumnya. Komorbid yang memengaruhi pembuluh darah seperti hipertensi atau kolesterol tinggi juga dapat memperberat risiko [3,5]. Dalam berbagai penelitian, sekitar 39–50% pasien lupus pernah mengalami keluhan neuropsikiatri selama perjalanan penyakitnya, meskipun tidak semuanya disebabkan langsung oleh lupus aktif. Karena banyak kondisi lain dapat meniru NPSLE, seperti stress, kurang tidur, infeksi otak, gangguan metabolik, atau efek samping obat, setiap gejala neurologis pada pasien lupus harus dievaluasi dengan teliti [6].
Secara klinis, pasien dapat mengalami “brain fog”, yaitu perasaan lambat berpikir, sulit fokus, atau pelupa. Keluhan ini sering tidak disadari sebagai bagian dari lupus sehingga terlambat ditangani. Sakit kepala persisten, perubahan mood seperti depresi atau kecemasan, hingga perubahan kepribadian dapat terjadi akibat disfungsi sistem saraf yang dipicu peradangan imun. Pada kondisi yang lebih berat, pasien dapat mengalami kejang atau gejala mirip stroke seperti kelemahan satu sisi tubuh atau gangguan bicara [5,6].
Diagnosis NPSLE bergantung pada pengumpulan riwayat klinis lengkap, pemeriksaan neurologis/psikiatrik, dan pemeriksaan penunjang yang sesuai. Tes darah untuk menilai aktivitas lupus dan keberadaan antibodi (mis. anti-dsDNA, antiphospholipid), pencitraan otak seperti MRI untuk melihat lesi struktural, EEG bila terdapat kejang, lumbal pungsi untuk kecurigaan infeksi, serta penilaian neuropsikologis untuk menilai gangguan kognitif secara objektif. Penting diingat bahwa tidak semua keluhan neuropsikiatrik pada pasien SLE disebabkan oleh lupus, penyebab lain harus disingkirkan terlebih dahulu agar pengobatan yang tepat dapat diberikan [5,6].
Pengobatan NPSLE saat ini terutama bersifat simptomatik dan meliputi penggunaan obat antipsikotik, antidepresan, serta anti-ansietas untuk menangani gejala psikiatri, maupun obat antiepilepsi untuk mengobati kejang. Bila gejala berasal dari aktivitas lupus yang menyebabkan peradangan, dokter biasanya memberikan obat imunosupresif seperti kortikosteroid dosis tinggi atau siklofosfamid, dan pada kasus tertentu obat yang menargetkan sel B seperti rituximab. Bila terdapat peran pembekuan darah akibat antibodi antiphospholipid, pasien dapat memerlukan antikoagulan atau antiplatelet. Penanganan juga mencakup terapi suportif seperti kontrol nyeri, stabilisasi mood, dukungan psikiatri, serta rehabilitasi kognitif bila terdapat gangguan memori atau konsentrasi. Di sisi alergi–imunologi, pemantauan jangka panjang diperlukan untuk mengendalikan aktivitas sistem imun dan mengevaluasi ada/tidaknya komplikasi [3,4].
Dengan penanganan yang tepat dan pemantauan rutin, banyak pasien NPSLE dapat mencapai perbaikan yang bermakna dan kembali berfungsi dalam aktivitas sehari-hari. Meskipun kondisi ini dapat terdengar menakutkan, pemahaman mengenai bagaimana sistem imun bekerja dan bagaimana gejala muncul dapat membantu pasien dan keluarga lebih waspada tanpa merasa panik. Kesadaran untuk segera memeriksakan gejala neurologis atau kejiwaan baru pada pasien lupus merupakan langkah penting agar kondisi ini dapat dikenali lebih awal dan ditangani dengan tepat.
Penulis:

Referensi
- The American College of Rheumatology Nomenclature and Case Definitions for Neuropsychiatric Lupus Syndromes. Arthritis Rheum. 1999 Apr;42(4):599–608.
- Carrión-Barberà I, Salman-Monte TC, Vílchez-Oya F, Monfort J. Neuropsychiatric involvement in systemic lupus erythematosus: a review. Autoimmun Rev. 2021 Apr;20(4):102780.
- Schwartz N, Stock AD, Putterman C. Neuropsychiatric lupus: new mechanistic insights and future treatment directions. Nat Rev Rheumatol. 2019 Mar;15(3):137–152.
- Liu Y, Tu Z, Zhang X, Du K, Xie Z, Lin Z. Pathogenesis and treatment of neuropsychiatric systemic lupus erythematosus: A review. Front Cell Dev Biol. 2022;10:998328.
- Bertsias GK, Ioannidis JPA, Aringer M, et al. EULAR recommendations for the management of systemic lupus erythematosus with neuropsychiatric manifestations: report of a task force of the EULAR Standing Committee for Clinical Affairs. Ann Rheum Dis. 2010;69(12):2074–2082.
- Sarwar S, Mohamed AS, Rogers S, et al. Neuropsychiatric Systemic Lupus Erythematosus: A 2021 Update on Diagnosis, Management, and Current Challenges. Cureus. 2021;13(9):e17969.
