Polusi Udara dan Alergi: Mengapa Udara yang Kita Hirup Bisa Memicu Gejala?

You are currently viewing Polusi Udara dan Alergi: Mengapa Udara yang Kita Hirup Bisa Memicu Gejala?

Setiap hari, kita menghirup sekitar 11.000 liter udara, dan tidak semua udara yang kita hirup bersih. Di tengah pesatnya urbanisasi dan industrialisasi, kualitas udara yang kita hirup terus menghadapi berbagai tantangan, dengan konsekuensi yang nyata terhadap kesehatan. Salah satunya adalah meningkatnya beban penyakit alergi. Peningkatan prevalensi alergi yang relatif cepat menunjukkan bahwa perubahan paparan lingkungan turut berperan sebagai salah satu kontributor penting.

Polusi udara adalah campuran kompleks dari berbagai zat yang meliputi partikulat materi (PM), senyawa nitrogen oksida (NOx), senyawa organik volatil (VOC), ozon (O3), asap rokok lingkungan (ETS), dan polusi udara terkait lalu lintas (TRAP). Dari berbagai komponen tersebut, partikulat berukuran ≤2,5 mikrometer atau PM2.5 mendapat perhatian khusus dalam penelitian mengenai alergi. Ukurannya yang sangat kecil memungkinkan partikel ini menembus jauh ke dalam paru-paru, bahkan masuk ke dalam aliran darah.

Terdapat beberapa mekanisme biologis yang menjelaskan mengapa paparan polutan dapat memicu atau memperburuk respons alergi.

  1. Kerusakan sawar epitel

Lapisan epitel yang melapisi saluran napas dan kulit adalah benteng pertama tubuh terhadap alergen dari luar. Polutan udara, terutama PM2.5, dapat merusak integritas lapisan pelindung ini. PM2.5 mendorong terjadinya stres oksidatif dan induksi sitokin proinflamasi seperti interleukin (IL)-6, IL-8, tumor necrosis factor (TNF)-α, dan thymic stromal lymphopoietin (TSLP), yang berujung pada peradangan dan disfungsi sawar epitel. Saat sawar epitel melemah, alergen (zat pemicu alergi), seperti tungau debu, serbuk sari, atau jamur, lebih mudah menembus masuk dan memicu respons alergi.

  1. Stres oksidatif

PM2.5 dapat secara langsung maupun tidak langsung menghasilkan reactive oxygen species (ROS), yang pada akhirnya memicu stres oksidatif. Stres oksidatif ini tidak hanya merusak sel-sel epitel, tetapi juga mengaktifkan jalur inflamasi yang memperkuat respons alergi yang sudah ada.

  1. Efek sinergis polutan dan alergen

Salah satu temuan paling mengkhawatirkan adalah kemampuan PM2.5 untuk “bekerja sama” dengan alergen dalam meningkatkan respons imun. Diesel exhaust particles (DEP) dapat mengikat alergen serbuk sari rumput secara langsung dan memicu asma alergi. DEP mengadsorpsi antigen ke permukaannya, memfasilitasi konsentrasi alergen, sehingga meningkatkan deposisi di saluran napas dan memperbesar paparan paru-paru terhadap alergen. Selain itu, DEP dapat bekerja memperparah reaksi alergi. Hal ini menandakan orang yang terpapar polusi tinggi tidak hanya lebih mudah tersensitisasi terhadap alergen, tetapi juga bereaksi lebih erhadap alergen yang sebelumnya mungkin tidak menimbulkan masalah.

  1. Disregulasi sistem imun

Paparan polutan, khususnya asap rokok pada periode kehamilan, dikaitkan dengan kecenderungan respons imun Th2 pasca-kelahiran. Respons imun Th2 inilah yang mendasari penyakit alergi, mendorong produksi imunoglobulin E (IgE) pada kondisi alergi, dan pelepasan histamin yang menyebabkan gejala-gejala khas alergi.

Beberapa langkah sederhana dapat membantu mengurangi paparan polusi, seperti memantau indeks kualitas udara sebelum beraktivitas di luar ruangan, menggunakan masker dengan kemampuan filtrasi yang baik ketika kualitas udara buruk, serta menjaga kualitas udara dalam ruangan dengan ventilasi yang memadai dan mengurangi sumber polusi di dalam rumah. Dalam jangka panjang, pengendalian polusi membutuhkan upaya yang lebih luas, termasuk pengurangan emisi kendaraan dan industri serta kebijakan publik untuk memperbaiki kualitas udara. Berbagai bukti menunjukkan bahwa faktor lingkungan seperti polusi udara dapat berperan dalam sensitisasi alergen, dermatitis atopik, alergi makanan, dan rinitis alergi.

Pada akhirnya, kualitas udara yang kita hirup bukan sekadar persoalan kenyamanan. Udara merupakan bagian dari lingkungan yang terus berinteraksi dengan sistem imun kita, dan menjaga kualitasnya berarti turut menjaga kesehatan, termasuk kesehatan alergi, bagi diri kita dan generasi berikutnya.

Penulis

dr. Anshari Saifuddin Hasibuan, Sp.PD-KAI & dr. Rizqi Najla Humaira

Referensi

  1. Jackson CM, Kaplan AN, Järvinen KM. Environmental exposures may hold the key; impact of air pollution, greenness, and rural/farm lifestyle on allergic outcomes. Curr Allergy Asthma Rep. 2023 Jan 7;23(2):77–91.
  2. Sampath V, Aguilera J, Prunicki M, Nadeau KC. Mechanisms of climate change and related air pollution on the immune system leading to allergic disease and asthma. Semin Immunol. 2023 May;67:101765.
  3. Kim BE, Hui-Beckman JW, Nevid MZ, Goleva E, Leung DYM. Air pollutants contribute to epithelial barrier dysfunction and allergic diseases.Ann Allergy Asthma Immunol. 2024 Mar;132(3):291-298.
  4. Wang X, et al. Mechanism of PM2.5 induced/aggravated allergic diseases and its prevention and treatment. Heliyon. 2024 Jan;10(2):e24609.