Pasien dengan penyakit autoimun, seperti lupus (SLE), rheumatoid arthritis (RA), dan vaskulitis, memiliki risiko infeksi yang perlu mendapat perhatian khusus. Kondisi ini tidak hanya berkaitan dengan gangguan sistem kekebalan tubuh, tetapi juga dengan penggunaan obat-obatan yang menekan aktivitas imun untuk mengendalikan penyakit. Karena itu, vaksinasi menjadi salah satu langkah penting untuk membantu melindungi pasien dari infeksi dan komplikasinya. Meski demikian, kekhawatiran mengenai kemungkinan vaksin memicu kekambuhan penyakit atau kurang efektif selama pengobatan masih kerap muncul. Lantas, seberapa penting vaksinasi bagi pasien autoimun, dan apa saja yang perlu diperhatikan agar vaksinasi dapat dilakukan dengan aman dan tepat? (1-3)
Penyakit autoimun melibatkan gangguan regulasi sistem kekebalan tubuh. Pada kondisi tertentu, gangguan ini juga dapat memengaruhi kemampuan tubuh dalam melawan infeksi. Pada pasien lupus, misalnya, perubahan pada sejumlah mekanisme pertahanan imun dapat meningkatkan kerentanan terhadap infeksi. Risiko tersebut dapat semakin besar apabila pasien memerlukan pengobatan yang menekan aktivitas sistem kekebalan tubuh. (1-3)
Obat-obatan yang digunakan untuk mengendalikan penyakit autoimun menekan respons imun sehingga peradangan dan kerusakan organ dapat dikendalikan. Namun, obat tersebut juga dapat menekan respons sistem imun terhadap infeksi, juga dapat meningkatkan kerentanan terhadap infeksi atau memperberat perjalanan infeksi yang terjadi. Besarnya risiko bergantung pada jenis obat, dosis, kombinasi terapi, serta kondisi pasien. (1-3)
Selain itu karena sistem kekebalan tubuh yang tidak optimal, infeksi seperti influenza, pneumonia, dan herpes zoster atau cacar api dapat menimbulkan komplikasi yang lebih berat pada pasien autoimun. Sebagian pasien berisiko lebih tinggi memerlukan perawatan di rumah sakit, mengalami gangguan fungsi organ, atau menghadapi komplikasi yang mengancam jiwa. (1-3)
Infeksi juga dapat memicu aktivasi sistem imun dan pada sebagian pasien berpotensi berkontribusi terhadap kekambuhan penyakit autoimun. Jika penyakit kembali aktif, dokter mungkin perlu menyesuaikan pengobatan, termasuk meningkatkan dosis kortikosteroid atau memberikan terapi tambahan. Keadaan ini dapat meningkatkan risiko infeksi berikutnya dan membentuk lingkaran yang sulit diputus. (1-3)
Vaksinasi merupakan salah satu strategi penting untuk mencegah penyakit infeksi dan mengurangi risiko komplikasi. Vaksin non-hidup, termasuk vaksin inaktif dan vaksin rekombinan, umumnya dapat diberikan kepada pasien autoimun, termasuk mereka yang menggunakan obat imunosupresan. Meski demikian, respons kekebalan terhadap vaksin dapat lebih rendah pada pasien yang menggunakan obat tertentu. Keamanan dan efektivitas vaksin juga perlu dinilai berdasarkan jenis vaksin serta kondisi pasien. (1-3)
European Alliance of Associations for Rheumatology (EULAR) menerbitkan rekomendasi vaksinasi bagi pasien dengan penyakit rematik autoimun. Prinsip-prinsip yang perlu diperhatikan meliputi:
- Evaluasi status vaksinasi sejak awal diagnosis. Status vaksinasi perlu ditinjau secara berkala, termasuk saat kunjungan rutin.(3)
- Susun rencana vaksinasi secara individual. Pemilihan vaksin mempertimbangkan usia, penyakit yang mendasari, pengobatan, risiko paparan infeksi, dan riwayat vaksinasi.(3)
- Lakukan vaksinasi sedini mungkin. Jika memungkinkan, vaksinasi diberikan sebelum terapi imunosupresan dimulai. Namun, vaksinasi yang diperlukan tidak selalu harus ditunda sampai penyakit mencapai remisi.(3)
- Vaksin non-hidup dapat diberikan dengan aman tanpa bergantung pada jenis pengobatan yang dijalani. Vaksin jenis ini umumnya dapat diberikan selama terapi imunosupresan, meskipun respons kekebalannya mungkin berkurang.(3)
- Vaksin hidup yang dilemahkan dapat dipertimbangkan dengan hati-hati. Vaksin hidup dilemahkan memerlukan penilaian risiko yang lebih ketat karena dapat menimbulkan infeksi pada kondisi imunosupresi tertentu.(3)
Penerapan rekomendasi tetap memerlukan pertimbangan klinis. Tidak semua pasien membutuhkan vaksin yang sama atau memiliki jadwal vaksinasi yang identik.(3)
Selain itu, organisasi EULAR dan Satgas Imunisasi Dewasa Perhimpunan Dokter Spesialis Penyakit Dalam Indonesia (PAPDI) juga merekomendasikan beberapa jenis vaksin untuk pasien dengan autoimun, antara lain:
1. Influenza
Vaksin influenza tahunan dianjurkan bagi pasien dengan penyakit autoimun, terutama mereka yang menggunakan terapi imunosupresan atau memiliki faktor risiko komplikasi influenza. Vaksinasi biasanya diberikan satu dosis setiap tahun. Jenis vaksin dan formulasi yang sesuai ditentukan berdasarkan usia, ketersediaan, serta rekomendasi yang berlaku. Vaksin influenza dosis tinggi atau formulasi khusus dapat dipertimbangkan pada kelompok tertentu sesuai indikasi. (1-3)
Pada pasien yang menggunakan metotreksat, dokter dapat mempertimbangkan penghentian sementara obat setelah vaksinasi untuk meningkatkan respons kekebalan, apabila aktivitas penyakit memungkinkan. Pasien tidak boleh menghentikan metotreksat atau obat lainnya tanpa arahan dokter.(1-3)
2. Pneumokokus
Vaksin pneumokokus penting bagi pasien autoimun yang memiliki risiko lebih tinggi mengalami pneumonia dan penyakit pneumokokus invasif, khususnya pasien yang sedang atau akan menjalani terapi imunosupresan jangka panjang. Pemilihan vaksin bergantung pada usia, riwayat vaksinasi, jenis vaksin yang pernah diterima, dan kondisi imun pasien.(1-3)
Pilihan vaksin dapat mencakup vaksin konjugat pneumokokus, seperti PCV13, PCV15, PCV20, atau PCV21, serta vaksin polisakarida PPSV23 dalam skema tertentu. Pasien yang belum pernah divaksinasi perlu mengikuti jadwal awal sesuai vaksin yang dipilih. Sementara itu, pasien yang pernah menerima PPSV23 atau vaksin konjugat sebelumnya mungkin memerlukan vaksin tambahan setelah interval tertentu. Pasien yang telah menerima PCV20 dapat dianggap telah menyelesaikan seri vaksinasi dalam skema yang relevan.(1-3)
Jadwal dan interval yang tepat harus mengikuti pedoman imunisasi dewasa terbaru yang berlaku di Indonesia. Pasien tidak dianjurkan menggabungkan atau mengulang dosis hanya berdasarkan daftar umum tanpa memeriksa riwayat vaksinasi.(1-3)
3. Hepatitis A
Vaksin hepatitis A terutama dipertimbangkan bagi individu yang memiliki risiko paparan lebih tinggi, misalnya pelancong ke daerah endemis, serta mereka yang memiliki indikasi medis tertentu. Pada pasien autoimun, kebutuhan vaksin dinilai berdasarkan faktor risiko, kondisi kesehatan, dan kemungkinan paparan.(1-3)
Vaksin hepatitis A tunggal umumnya diberikan dalam dua dosis sesuai interval produk yang digunakan. Vaksin kombinasi hepatitis A dan B diberikan dalam seri sesuai jadwal produk, sedangkan kombinasi hepatitis A dan tifoid mengikuti indikasi serta jadwal vaksin yang digunakan.(1-3)
4. Hepatitis B
Vaksin hepatitis B penting untuk mencegah infeksi yang dapat berkembang menjadi penyakit hati kronis. Pasien yang menggunakan imunosupresan perlu mendapat perhatian khusus karena respons terhadap vaksin dapat berkurang. Sebelum memulai terapi imunosupresan tertentu, dokter dapat mempertimbangkan pemeriksaan penanda hepatitis B, termasuk HBsAg, anti-HBc, dan anti-HBs, sesuai kondisi klinis dan jenis terapi yang direncanakan.(1-3)
Pada pasien dengan indikasi pemeriksaan respons vaksin, kadar antibodi anti-HBs dapat dinilai setelah vaksinasi. Kadar anti-HBs sebesar 10 mIU/mL atau lebih umumnya digunakan sebagai ambang respons protektif dalam konteks yang sesuai.(1-3)
Jadwal vaksinasi mengikuti produk yang digunakan dan status imunisasi sebelumnya. Pada pasien imunokompromais, dokter dapat mempertimbangkan regimen atau dosis khusus sesuai pedoman yang berlaku. Pemeriksaan respons antibodi dan pemberian dosis tambahan juga dapat diperlukan pada kelompok tertentu.(1-3)
5. Human papillomavirus (HPV)
Vaksin HPV membantu mencegah infeksi HPV yang berkaitan dengan kanker serviks dan sejumlah kanker anogenital lainnya. Vaksinasi sangat bermanfaat jika diberikan sebelum seseorang terpapar HPV. Jumlah dosis ditentukan oleh usia saat memulai vaksinasi, status imun, jenis vaksin, dan pedoman yang berlaku. Pasien imunokompromais umumnya memerlukan seri tiga dosis. (1-3)
6. Herpes zoster atau cacar api
Herpes zoster terjadi akibat reaktivasi virus varicella-zoster yang sebelumnya menyebabkan cacar air. Risiko penyakit ini meningkat pada usia lanjut dan pada individu yang mengalami gangguan sistem imun. Vaksin herpes zoster rekombinan, seperti Shingrix, merupakan vaksin non-hidup yang dapat dipertimbangkan bagi pasien imunokompromais sesuai indikasi usia dan kondisi klinis. Vaksin ini juga dapat dipertimbangkan pada pasien yang pernah mengalami herpes zoster karena riwayat infeksi sebelumnya tidak menghilangkan risiko kekambuhan. Pasien yang menggunakan JAK inhibitor atau terapi tertentu yang memengaruhi jalur interferon perlu mendapat perhatian khusus terkait risiko herpes zoster. Vaksin herpes zoster rekombinan umumnya diberikan dalam dua dosis, dengan interval sesuai rekomendasi dan kondisi imun pasien.(1-3)
7. Tetanus, difteri, dan pertusis
Pasien autoimun tetap perlu melengkapi imunisasi tetanus dan difteri, termasuk vaksin pertusis sesuai indikasi. Pada pasien yang menggunakan terapi tertentu, khususnya obat yang mengurangi jumlah atau fungsi sel B, respons antibodi terhadap vaksin dapat berkurang. Dokter perlu mempertimbangkan waktu pemberian vaksin agar manfaatnya optimal.(1-3)
Orang dewasa yang belum menyelesaikan seri imunisasi primer memerlukan vaksinasi sesuai riwayat imunisasi dan pedoman yang berlaku. Setelah seri primer lengkap, dosis penguat diberikan sesuai jadwal yang direkomendasikan. Pada setiap kehamilan, vaksin Tdap diberikan sesuai rekomendasi untuk membantu melindungi bayi dari pertusis.(1-3)
8. COVID-19
Vaksinasi COVID-19 perlu dipertimbangkan bagi pasien autoimun, terutama mereka yang menggunakan imunosupresan atau memiliki faktor risiko penyakit COVID-19 berat. Bukti penelitian menunjukkan bahwa vaksinasi dapat memberikan perlindungan terhadap penyakit berat pada banyak pasien dengan penyakit rematik. Namun, tingkat respons kekebalan dapat berbeda, terutama pada pasien yang menerima terapi tertentu.(1-3)
Jadwal vaksinasi mengikuti rekomendasi nasional terbaru, jenis vaksin yang tersedia, riwayat vaksinasi, dan kondisi imun pasien. Pasien sebaiknya berkonsultasi dengan dokter yang merawat untuk menentukan jadwal yang sesuai.(1-3)
Pesan praktis bagi pasien autoimun
Pasien sebaiknya mendiskusikan rencana vaksinasi dengan dokter sejak awal diagnosis. Seluruh obat yang sedang digunakan, termasuk obat imunosupresan dan agen biologik, serta riwayat alergi atau reaksi vaksin sebelumnya perlu disampaikan kepada dokter dan petugas vaksinasi.(1-3)
Pasien juga tidak boleh menghentikan atau menunda pengobatan sendiri menjelang vaksinasi. Vaksin non-hidup dapat diberikan selama terapi imunosupresan, sedangkan vaksin hidup memerlukan evaluasi khusus. Jika memungkinkan, vaksinasi sebaiknya dilengkapi sebelum terapi imunosupresan baru dimulai agar respons kekebalan lebih optimal. Anggota keluarga serumah juga dianjurkan melengkapi imunisasi sesuai pedoman untuk membantu mengurangi risiko penularan infeksi.
Kesimpulan
Vaksinasi merupakan bagian penting dari perlindungan kesehatan jangka panjang bagi pasien autoimun. Risiko infeksi akibat penyakit yang mendasari maupun pengobatan perlu dipertimbangkan bersama manfaat vaksinasi.(1-3)
Prinsip utamanya adalah merencanakan vaksinasi sedini mungkin, memilih vaksin berdasarkan kondisi individual, dan menyesuaikan waktu pemberian dengan terapi yang sedang dijalani. Pasien tidak perlu menghindari semua vaksin hanya karena memiliki penyakit autoimun, tetapi juga tidak boleh menganggap semua vaksin aman untuk setiap kondisi. Keputusan vaksinasi terbaik adalah keputusan yang dibuat bersama dokter, berdasarkan bukti ilmiah, kondisi penyakit, jenis pengobatan, dan rekomendasi imunisasi yang berlaku.(1-3)
Penulis
- dr. Anshari Saifuddin Hasibuan, Sp.PD-KAI
- dr. Rizqi Najla Humaira
Referensi
- Furer V, Rondaan C, Heijstek MW, Agmon-Levin N, van Assen S, Bijl M, et al. 2019 update of EULAR recommendations for vaccination in adult patients with autoimmune inflammatory rheumatic diseases. Ann Rheum Dis. 2020;79(1):39-52.
- Satgas Imunisasi Dewasa PB PAPDI. Jadwal Imunisasi Dewasa Rekomendasi Satgas Imunisasi Dewasa PAPDI Tahun 2024. Jakarta: PAPDI; 2024.
- RheumNow. EULAR 2026: updated recommendations for vaccination in patients with autoimmune inflammatory rheumatic diseases [Internet]. 2026 Jun 18 [cited 2026 Oct 22]. Available from: https://rheumnow.com/node/50142
