Setiap tanggal 23 Juli diperingati sebagai World Sjögren’s Day, sebuah momentum untuk meningkatkan kesadaran terhadap penyakit Sjögren, penyakit autoimun yang masih sering tidak dikenali. Meski paling dikenal karena menyebabkan mata dan mulut kering, penyakit ini sebenarnya dapat menyerang berbagai organ tubuh dan berdampak besar terhadap kualitas hidup penderitanya. Pernahkah mata Anda terasa seperti berpasir, mulut selalu kering, dan tubuh mudah lelah tanpa sebab yang jelas? Banyak orang menganggap keluhan-keluhan tersebut sebagai bagian dari penuaan, kurang istirahat, atau efek samping obat. Namun pada sebagian orang, gejala ini bisa menjadi tanda penyakit Sjögren. Karena gejalanya sering tampak ringan dan tidak khas, diagnosis penyakit ini kerap terlambat ditegakkan.(1-2)
Penyakit Sjögren adalah penyakit autoimun sistemik, yaitu kondisi ketika sistem kekebalan tubuh yang seharusnya melindungi dari infeksi justru menyerang jaringan tubuh sendiri. Pada penyakit ini, sasaran utamanya adalah kelenjar yang menghasilkan air mata dan air liur. Akibatnya, produksi air mata dan air liur menurun sehingga timbul gejala mata dan mulut kering. penyakit Sjögren dibagi menjadi dua jenis, yakni primer dan sekunder. penyakit Sjögren primer terjadi ketika penyakit muncul tanpa disertai penyakit autoimun lain, sedangkan penyakit Sjögren sekunder terjadi bersamaan dengan penyakit autoimun lain, seperti artritis reumatoid atau lupus eritematosus sistemik (lupus).(1-2)
penyakit Sjögren diperkirakan dialami oleh sekitar 0,5–1% populasi dunia. Penyakit ini dapat terjadi pada siapa saja, tetapi paling sering muncul pada usia 45–55 tahun. Perempuan jauh lebih sering terkena dibandingkan laki-laki, dengan perbandingan sekitar 9 banding 1. Hingga kini, penyebab pastinya belum diketahui. Para ahli meyakini bahwa penyakit ini muncul akibat kombinasi faktor genetik, hormon, dan lingkungan. Beberapa infeksi virus, seperti virus Epstein-Barr, juga diduga dapat memicu penyakit pada individu yang memiliki kerentanan genetik.(2-3)
Pada penyakit Sjögren, sel-sel sistem kekebalan tubuh berkumpul dan menyebabkan peradangan pada kelenjar air mata dan kelenjar air liur. Peradangan yang berlangsung lama membuat kedua kelenjar tersebut tidak dapat bekerja secara optimal sehingga produksi air mata dan air liur terus menurun. Selain itu, tubuh juga menghasilkan autoantibodi, yaitu antibodi yang menyerang jaringan tubuh sendiri. Pemeriksaan autoantibodi tertentu, seperti anti-SSA/Ro dan anti-SSB/La, sering digunakan untuk membantu menegakkan diagnosis. Pada sebagian kecil pasien, peradangan kronis ini juga meningkatkan risiko terjadinya kanker sistem limfatik, terutama limfoma sel B.(2-4)
Keluhan yang paling khas adalah mata dan mulut kering. Mata kering dapat menimbulkan sensasi seperti berpasir, terasa perih, mudah merah, silau, atau penglihatan menjadi kabur. Sementara itu, mulut kering membuat penderita sering merasa haus, sulit menelan makanan kering, sulit berbicara dalam waktu lama, serta lebih mudah mengalami gigi berlubang karena berkurangnya air liur.(3-4)
Namun, penyakit Sjögren bukan hanya menyerang kelenjar. Sekitar setengah dari penderita juga mengalami gangguan pada organ lain, seperti nyeri atau bengkak pada sendi, kelelahan yang berkepanjangan, kulit kering, gangguan paru-paru, gangguan saraf, gangguan ginjal, dan kesulitan berkonsentrasi atau brain fog. Sebagian pasien juga mengalami pembengkakan pada kelenjar ludah di sekitar pipi atau bawah rahang.(1-3)
Mata dan mulut kering merupakan keluhan yang cukup umum, terutama pada usia lanjut atau akibat penggunaan obat-obatan tertentu. Karena itu, banyak penderita penyakit Sjögren tidak langsung terdiagnosis. Dokter akan menegakkan diagnosis berdasarkan kombinasi gejala, pemeriksaan fisik, tes darah untuk mendeteksi autoantibodi, pemeriksaan produksi air mata dan air liur, serta pada kondisi tertentu dilakukan biopsi kelenjar ludah kecil di bibir. Seluruh hasil tersebut kemudian dinilai menggunakan kriteria klasifikasi internasional ACR/EULAR 2016.(1-4)
Hingga saat ini belum ada terapi yang dapat menyembuhkan penyakit Sjögren. Namun, berbagai pengobatan dapat membantu mengurangi gejala, menjaga fungsi organ, dan mencegah komplikasi. Untuk mengatasi mata kering, dokter biasanya menganjurkan penggunaan tetes mata buatan (artificial tears). Pada kasus yang lebih berat, dapat diberikan tetes mata antiinflamasi sesuai anjuran dokter.(1-4)
Pada mulut kering, penderita dianjurkan untuk menjaga asupan cairan, menggunakan pengganti air liur bila diperlukan, serta pada beberapa kasus diberikan obat seperti pilokarpin atau cevimeline untuk merangsang produksi air liur. Apabila penyakit sudah melibatkan organ lain, dokter dapat memberikan obat yang menekan aktivitas sistem kekebalan tubuh, seperti hidroksiklorokuin, kortikosteroid, atau obat imunosupresan lainnya sesuai kondisi masing-masing pasien.(1-4)
Penulis

Referensi
- Baldini C, Fulvio G, La Rocca G, Ferro F. Update on the pathophysiology and treatment of primary Sjögren syndrome. Nat Rev Rheumatol. 2024 Aug;20(8):473-491.
- Negrini S, Emmi G, Greco M, Borro M, Sardanelli F, et al. Sjögren’s syndrome: a systemic autoimmune disease. Clin Exp Med. 2021 Jun 7;22(1):9–25.
- Hu Y, Wen B, Zhang Y, Wang X, Duan X, Li H, et al. Sjögren’s syndrome: Epidemiology, classification criteria, molecular pathogenesis, diagnosis, and treatment. MedComm (2020). 2025 Jul 11;6(7):e70297.
- Zhan Q, Zhang J, Lin Y, Chen W, Fan W, Zhang D. Pathogenesis and treatment of Sjogren’s syndrome: Review and update. Front Immunol. 2023 Feb 2;14:1127417.
