Pertemuan ilmiah multidisiplin mengenai transisi penggunaan vaksin influenza dari vaksin kuadrivalen (QIV) ke vaksin trivalen (TIV) telah diselenggarakan pada Senin, 16 Februari 2026, di Hotel DoubleTree Cikini, Jakarta. Forum ini diadakan untuk melakukan telaah ilmiah mendalam terhadap dinamika virologi terkini serta merumuskan langkah strategis terkait rencana transisi vaksin influenza di Indonesia, menyusul perubahan kebijakan global mengenai komposisi galur virus influenza.
Pertemuan ini dihadiri oleh jajaran panel ahli, guru besar, dan praktisi kesehatan terkemuka di Indonesia. Para pakar yang hadir meliputi Prof. dr. Cissy B. Kartasasmita, Sp.A(K), M.Sc., Ph.D; Prof. Dr. dr. Iris Rengganis, Sp.PD, K-AI, FINASIM; Prof. Dr. dr. Sri Rezeki Hadinegoro, Sp.A(K); Prof. Dr. dr. Hartono Gunardi, Sp.A, Subsp. T.K.P.S(K); Prof. Dr. dr. Edi Hartoyo, Sp.A, Subsp. Inf.P.T(K); Dr. dr. Sukamto Koesnoe, SpPD, K-AI, FINASIM; Dr. dr. Wahyuni Indawati, Sp.A, Subsp. Respi(K); dan Dr. dr. Yudianto Budi Saroyo, Sp.O.G, Subsp.K.Fm.
Selain itu, diskusi juga melibatkan dr. Kristoforus Hendra Djaya, Sp.PD; Dr. dr. Vivi Setiawaty, M.Biomed, MARS.; Dr. Hana Apsari Pawestri, S.Si, MSc; Dr. dr. Julitasari Sundoro, M.Sc-PH; serta drh. Ikke Yuniherlina, M.Epid. Kehadiran para ahli dari berbagai disiplin ini memperkuat karakter pertemuan sebagai forum kajian ilmiah dan penyelarasan rekomendasi implementasi di lapangan.

Alur Diskusi Ilmiah
Diskusi dimulai dengan pemaparan mengenai Global Influenza Landscape & Epidemiology yang disampaikan oleh Prof. Dr. dr. Cissy Kartasasmita, SpA(K) dan Prof. Dr. dr. Iris Rengganis, Sp.PD, Subsp. A.I.(K), FINASIM. Sesi ini memberikan konteks mengenai perubahan lanskap epidemiologi influenza global dan relevansinya terhadap kebijakan vaksinasi di Indonesia.
Pemaparan berikutnya berfokus pada Data Influenza: Global, Regional & Nasional yang dibawakan oleh Dr. dr. Sukamto Koesnoe, SpPD, K-AI. Materi ini menempatkan data surveilans Indonesia dalam konteks global dan regional, sehingga arah transisi vaksin dapat dinilai berdasarkan pola sirkulasi virus yang aktual.
Selanjutnya, Prof. Dr. dr. Sri Rezeki Hadinegoro, SpA(K) menyampaikan Scientific Review: QIV vs TIV – Evidence Summary. Sesi ini menjadi bagian penting dalam menilai dasar ilmiah transisi dari QIV ke TIV, terutama terkait kesesuaian galur, efektivitas perlindungan, serta profil keamanan vaksin.
Rangkaian diskusi kemudian dilanjutkan dengan Panel Discussion & Penyusunan Rekomendasi yang diikuti oleh seluruh pakar dan dimoderatori oleh Prof. Dr. dr. Cissy Kartasasmita, SpA(K). Pada sesi ini, para panelis meninjau data yang telah dipaparkan dan menyusun konsensus bersama untuk mendukung implementasi transisi vaksin influenza di Indonesia.
Hasil Telaah Ilmiah dan Konsensus Bersama
Melalui diskusi multidisiplin dan peninjauan data surveilans aktual, pertemuan ini menghasilkan sejumlah konsensus penting. Konsensus tersebut mencakup aspek ilmiah dan situasi epidemiologi, evaluasi efektivitas serta profil keamanan, serta panduan implementasi lapangan agar transisi dari QIV ke TIV dapat berjalan secara terarah dan tidak mengganggu layanan imunisasi.
Aspek Ilmiah dan Situasi Epidemiologi
Salah satu dasar ilmiah utama dalam transisi ini adalah rasionalisasi eliminasi galur B/Yamagata. Berdasarkan pemantauan global, virus influenza dari galur B/Yamagata sudah tidak lagi ditemukan bersirkulasi di masyarakat sejak Maret 2020. Dengan demikian, kebijakan untuk meniadakan komponen B/Yamagata dari formulasi vaksin tahunan memiliki landasan ilmiah yang kuat dan sejalan dengan rekomendasi WHO.
Perubahan dari format kuadrivalen kembali ke trivalen dipahami sebagai langkah amandemen terhadap komposisi vaksin, bukan sebagai penurunan mutu proteksi. Saat ini, galur influenza B yang masih aktif adalah B/Victoria, sehingga penggunaan TIV merupakan penyesuaian yang logis terhadap realitas sirkulasi virus. Dengan komposisi yang disesuaikan terhadap galur yang relevan, perubahan ini tidak dipandang menurunkan efektivitas perlindungan vaksin.
Pada lini influenza A, diskusi menyoroti adanya pergeseran pola dominasi dari subtipe A(H1N1) ke A(H3N2). Di Indonesia, varian subclade K dari H3N2 sempat memicu 74 kasus yang tersebar di 13 provinsi, dengan tren puncak pada Oktober 2025 sebelum akhirnya melandai pada awal periode 2026. Temuan ini menegaskan pentingnya pemantauan epidemiologi berkelanjutan untuk memastikan komposisi vaksin tetap selaras dengan galur yang beredar.
Evaluasi Efektivitas dan Profil Keamanan
Dari sisi keamanan, telaah klinis menegaskan bahwa profil keamanan TIV setara dengan QIV. Tidak terdapat indikasi maupun laporan mengenai efek samping baru yang tidak diharapkan selama transisi komposisi vaksin ini. Dengan demikian, perubahan dari QIV ke TIV tidak mengubah prinsip dasar pemantauan keamanan vaksin dalam praktik klinis.
Dari sisi efektivitas, kemampuan perlindungan vaksin influenza terutama ditentukan oleh tingkat akurasi kecocokan antara galur yang dimasukkan ke dalam vaksin dan virus yang benar-benar beredar di lapangan. Dengan kata lain, kualitas perlindungan tidak semata-mata ditentukan oleh jumlah galur dalam vaksin, melainkan oleh relevansi dan ketepatan galur yang digunakan terhadap situasi epidemiologi aktual.
Ketentuan dan Panduan Implementasi Lapangan
Agar masa transisi berjalan lancar tanpa mengganggu program imunisasi, para tenaga kesehatan perlu memperhatikan sejumlah aspek operasional. Prinsip utama yang perlu dijaga adalah kontinuitas layanan vaksinasi di seluruh fasilitas kesehatan. Selama periode peralihan, tenaga medis disarankan untuk tetap memanfaatkan sediaan vaksin influenza yang tersedia di fasilitas masing-masing.
Fasilitas pelayanan kesehatan yang masih memiliki stok vaksin QIV tetap diperbolehkan menggunakan sediaan tersebut hingga habis. Namun, pengelolaan stok harus dilakukan secara ketat, terutama melalui pemantauan tanggal kedaluwarsa secara teliti dan kepatuhan terhadap sistem rantai dingin atau cold chain. Dengan pendekatan ini, transisi menuju TIV dapat dilakukan tanpa pemborosan sediaan dan tanpa mengorbankan mutu layanan vaksinasi.
Dalam komunikasi kepada masyarakat, tenaga medis perlu membangun narasi edukasi yang selaras, informatif, dan menenangkan. Pesan utama yang perlu ditegaskan adalah bahwa TIV memiliki standar mutu, keamanan, dan efikasi yang tetap baik, serta disusun berdasarkan perubahan pola sirkulasi virus influenza yang aktual. Edukasi yang konsisten akan membantu mencegah kesalahpahaman bahwa transisi dari QIV ke TIV merupakan penurunan kualitas vaksin.
Prioritas vaksinasi tetap perlu diarahkan pada kelompok rentan. Infeksi influenza dapat memicu perburukan kondisi klinis, termasuk serangan kardiovaskular akut serta eksaserbasi penyakit kronis yang sudah ada. Karena itu, kelompok anak-anak, lansia berusia 50 tahun ke atas, ibu hamil, pasien dengan komorbiditas, dan petugas kesehatan tetap menjadi populasi penting dalam strategi vaksinasi influenza.
Secara keseluruhan, pertemuan ini menegaskan bahwa transisi dari QIV ke TIV di Indonesia merupakan langkah berbasis data dan sejalan dengan dinamika sirkulasi virus influenza terkini. Dengan pengelolaan sediaan yang tepat, komunikasi publik yang konsisten, serta prioritas pada kelompok berisiko tinggi, proses transisi diharapkan dapat berlangsung aman, terarah, dan tetap mendukung perlindungan masyarakat terhadap influenza.
