Sindrom antifosfolipid (APS) adalah kondisi dimana sistem imun secara keliru menciptakan antibodi yang membuat darah lebih mudah menggumpal. Antibodi ini dapat menyebabkan terbentuknya pembekuan darah di arteri dan vena, atau yang biasa disebut trombosis. Antibodi biasanya melindungi tubuh dari virus dan bakteri namun pada APS justru menyebabkan penggumpalan darah. APS ditandai dengan adanya antibodi antifosfolipid dalam kondisi trombosis dan komplikasi kehamilan, kejadian ini mempengaruhi setidaknya 1 dari 2000 orang. Penyakit APS dipicu oleh autoantibodi yang menyerang fosfolipid dan protein yang mengikat fosfolipid, menyebabkan peningkatan risiko trombosis dan komplikasi inflamasi. Antibodi ini adalah autoantibodi yang ditujukan terhadap protein yang mengikat fosfolipid dan terdiri dari 3 kategori utama.
Lokasi yang paling umum untuk trombosis vena dan arteri adalah sirkulasi bawah dan sirkulasi arteri serebral. Namun trombosis dapat terjadi pada organ mana pun. Gumpalan darah dapat terjadi di kaki, paru-paru, ginjal bahkan limpa. Gumpalan dara ini dapat menyebabkan serangan jantung, stroke, dan kondisi lainnya. Selama kehamilan, APS juga dapat memicu kehamilan dan janin lahir mati. Uji laboratorium termasuk enzim-linked immunosorbent assay (ELISA) dan uji fungsional, digunakan untuk mengidentifikasi APS. 3 antibodi yang diketahui meliputi antibodi antikardiolipin IgG atau IgM (ELISA), antibodi anti-beta-2glikoprotein-I(anti β2GPI) IgG atau IgM (ELISA), dan antikoagulan lupus (uji pembekuan fungsional).
Penyakit ini dapat terjadi secara mandiri atau bersamaan dengan penyakit autoimun lain terutama systemic lupus erythematosus. Faktor risiko genetik, seperti faktor mutasi koagulasi meningkatkan risiko trombosis terkait antibodi antifosfolipid. Umumnya APS terjadi pada wanita daripada pria. Ada kemungkinan jika memiliki antibodi yang terkait dengan APS tidak menunjukkan tanda atau gejala, namun memiliki antibodi ini meningkatkan risiko terbentuknya pembekuan darah, terutama jika hamil, duduk terlalu lama selama penerbangan panjang, melakukan operasi, merokok, minum kontrasepsi oral atau terapi estrogen untuk menopause dan memiliki kadar kolesterol dan trigliserida yang tinggi.
Gejala APS dapat ditunjukkan dengan gejala yang bervariasi, antara lain: gumpalan darah di kaki, keguguran berulang, stroke, transient ischemic attack (TIA) dan ruam merah dengan pola seperti jaring berenda. APS juga dapat merusak katup jantung dan memicu penyakit kardiovaskular, penurunan sel darah yang diperlukan untuk pembekuan darah dan menyebabkan episode perdarahan terutama di hidung dan gusi juga sebagai penanda sindrom antifosfolipid.
Sindrom antifosfolipid yang berat juga dapat menimbulkan komplikasi gagal ginjal, karena berkurangnya aliran darah ke ginjal. Jika terdapat gumpalan darah di kaki dapat merusak katup di pembuluh vena yang menjaga darah tetap mengalir ke jantung. Komplikasi lain dapat berupa keguguran, kelahiran prematur, pertumbuhan janin yang lambat, tekanan darah tinggi yang berbahaya selama kehamilan (preeklamsia), kelahiran bayi mati dan tekanan darah tinggi di paru-paru dan emboli paru.
Penatalaksanaan utamanya melibatkan terapi antikoagulan, dengan antagonis vitamin K yang berdampak lebih baik dibandingkan antikoagulan oral langsung. Untuk dapat memahami APS selain kriteria klinis, diagnosis APS memerlukan antikoagulan lupus atau titer sedang hingga tinggi dari antibodi antikardiolipin atau anti -β2GPI IgG atau IgM. Kriteria tersebut mengaruskan tes antibodi antifosfolipid berulang yang hasilnya positif 12 minggu setelah tes positif awal untuk menyingkirkan antibodi yang tidak penting secara klinis atau sementara. Jika durasi kurang dari 12 minggu atau tes laboratorium positif lebih dari 5 tahun, diagnosis APS diragukan.
Mengingat kompleksitas dan beragamnya kondisi mendasar yang menyebabkan sindrom antifosfolipid, seluruh anggota tim interprofesional harus dapat memberikan masukan untuk diagnosis dan perawatan selanjutnya, terutama dalam kasus yang melibatkan kehamilan, dimana dokter spesialis kebidanan dan dan dokter bidang penyakit dalam yang ahli di bidang imun harus dilibatkan dalam konsultasi.
oleh :
- Dr. Anshari Saifuddin Hasibuan, SpPD , KAI (Dokter spesialis penyakit dalam konsultan alergi imunologi),
- Fathiya Mulyaningrum, SKM
—————————
Refrensi
Duarte-García , A., Pham, MM, & Crowson, CS (2023). Sindrom antifosfolipid. StatPearls Publishing. https://www.ncbi.nlm.nih.gov/books/NBK430980/
Staf Mayo Clinic. (nd). Sindrom antifosfolipid. Mayo Clinic. Diakses 20 Mei 2025, dari https://www.mayoclinic.org/diseases-conditions/antiphospholipid-syndrome/symptoms-causes/syc-20355831
Knight, JS, Branch, DW, & Ortel, TL (2023). Sindrom antifosfolipid: kemajuan dalam diagnosis, patogenesis, dan penatalaksanaan. BMJ, 380, e069717. https://doi.org/10.1136/bmj-2021-069717
Parepalli, A., Sarode, R., Kumar, S., Nelakuditi, M., & Kumar, MJ (2024). Sindrom Antifosfolipid dan Sindrom Antifosfolipid Katastrofik: Tinjauan Komprehensif Patogenesis, Gambaran Klinis, dan Strategi Penatalaksanaan. Cureus. https://doi.org/10.7759/cureus.66555
